Nineteen

122 11 2
                                        

Happy Reading

Malam itu suasana apartemen terasa sunyi.

Gala berdiri cukup lama di depan balkon, lalu menoleh ke arah istrinya yang duduk diam di sofa.

"Bulan..." suaranya lebih lembut dari biasanya.

"Bulan," ucapnya pelan, duduk di samping istrinya yang sedang memijat kakinya sendiri. "Aku mau ngomong sesuatu... tapi jangan langsung marah, ya."

Bulan menoleh pelan. "Apa lagi?"

Gala menarik napas.

"Kita pulang ke rumah Mama lagi."

Kalimat itu membuat Bulan langsung menegang.

Suasana seketika berubah.

"Kamu lupa aku pergi dari sana karena apa?" suaranya pelan tapi tajam.

Gala tidak menghindar kali ini.

"Aku nggak lupa," jawabnya jujur. "Aku tahu Mama salah waktu itu. Aku juga salah karena nggak langsung bela kamu."

Bulan terdiam. Luka itu belum benar-benar hilang.

"Aku cuma mikir... kamu lagi hamil. Aku kerja dari pagi sampai malam. Di apartemen kamu sendirian. Waktu kemarin kamu sempat pusing dan hampir jatuh di kamar mandi, aku kepikiran terus."

Nada Gala bukan memaksa. Lebih ke khawatir.

"Aku takut kejadian apa-apa pas aku nggak ada."

Bulan menunduk. Tangannya refleks mengusap perutnya.

Ia ingat kejadian itu. Ia memang hampir terpeleset. Dan waktu itu ia sendirian.

"Tapi aku nggak mau ngerasa nggak diterima lagi," ucapnya lirih. "Aku nggak mau dengar sindiran lagi."

Gala mendekat.

"Kali ini beda," katanya tegas. "Aku sudah ngomong sama Mama. Kalau kita pulang, nggak ada lagi pembahasan Vista. Nggak ada lagi banding-bandingin. Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman, aku yang berdiri di depan kamu."

Bulan menatapnya, mencoba membaca kesungguhan itu.

"Kenapa baru sekarang kamu berani ngomong gitu?" tanyanya pelan.

Gala tersenyum tipis, pahit.

"Karena sekarang bukan cuma soal gengsi atau siapa yang benar. Sekarang kamu lagi bawa anak aku. Aku nggak mau ego kita bikin kamu sendirian."

Hening.

Bulan masih takut. Trauma kecil itu nyata. Ia ingat bagaimana ia pergi sambil menangis, merasa tidak diinginkan.

Tapi ia juga sadar—ia tidak bisa terus bersembunyi di apartemen hanya karena luka lama.

"Kalau aku pulang..." suaranya pelan, "kamu jangan pernah biarin aku sendirian lagi waktu mereka nyakitin aku."

Gala langsung menggenggam tangannya.

"Aku janji. Kali ini aku bukan cuma suami kamu. Aku pelindung kamu."

Bulan menarik napas panjang.

Ini bukan soal rumah.
Ini soal keberanian kembali ke tempat yang pernah melukainya.

Dan mungkin... ini juga tentang memberi kesempatan kedua.

Bukan cuma untuk mama Gala.

Tapi untuk Gala sendiri.

Malam itu Bulan masih diam setelah permintaan itu.

Wajahnya tidak marah, tapi jelas belum yakin.

Melihat keraguan itu, Gala tidak lagi berbicara dengan nada hati-hati. Ia duduk tepat di depan istrinya, menatapnya serius.

GALLANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang