Happy Reading
Pagi itu tidak banyak perdebatan.
Setelah percakapan panjang semalam, Gala tidak lagi menunda. Ia bangun lebih awal, mulai mengemasi pakaian Bulan satu per satu dengan rapi ke dalam koper besar.
Bulan hanya duduk di tepi ranjang, memandangi suaminya tanpa banyak bicara.
Keputusan itu terasa cepat. Terlalu cepat.
Tapi mungkin justru karena kalau diberi waktu lebih lama, ia akan kembali ragu.
"Kita nggak jadi cuma ngobrol?" tanya Bulan pelan.
Gala berhenti sejenak, lalu menatapnya.
"Aku nggak mau kamu terus sendirian di sini. Kita pindah hari ini. Kalau nanti kamu nggak nyaman, kita atur lagi. Tapi untuk sekarang, aku nggak mau ambil risiko."
Nada suaranya tidak keras. Tapi penuh keputusan.
Bulan menarik napas panjang.
Ia melihat koper yang mulai penuh. Bajunya. Perlengkapan hamilnya. Vitamin-vitaminnya. Bahkan bantal kecil yang biasa ia peluk saat tidur.
Ini bukan sekadar berkunjung.
Ini benar-benar kembali.
Perjalanan menuju rumah orang tua Gala terasa hening. Tidak ada musik. Tidak ada obrolan ringan.
Bulan memandangi jalanan dari balik kaca mobil, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar lebih cepat dari biasanya.
Saat mobil berhenti di halaman rumah itu, tangannya refleks meremas ujung dress yang ia kenakan.
Rumah itu masih sama.
Tapi perasaannya tidak lagi sama.
Gala turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuknya. Tangannya terulur, menunggu.
Bulan menatap tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya.
"Kalau aku kelihatan nggak nyaman, kamu langsung peka ya," bisiknya pelan.
Gala mengangguk. "Aku nggak akan lepasin kamu."
Pintu rumah terbuka.
Ibunya Gala terdiam sesaat melihat koper besar di tangan anaknya.
"Kalian...?" tanyanya pelan.
"Kita pindah ke sini dulu, Ma," jawab Gala tegas. "Sampai Bulan melahirkan."
Suasana hening beberapa detik.
Bulan bisa merasakan udara terasa lebih berat.
Namun tidak ada komentar sinis. Tidak ada sindiran.
Ibunya hanya mengangguk pelan.
"Kamarnya sudah Mama bersihin."
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat dada Bulan sedikit menghangat.
Koper dibawa masuk. Langkah mereka melewati ruang tamu yang dulu menjadi saksi pertengkaran. Kini terasa berbeda — masih canggung, tapi tidak setajam dulu.
Di dalam kamar, Gala menutup pintu dan langsung menoleh pada istrinya.
"Gimana?" tanyanya hati-hati.
Bulan berdiri diam beberapa detik, lalu duduk di tepi ranjang.
"Aku takut," akunya jujur. "Tapi aku juga capek kalau harus kuat sendirian terus."
Gala berlutut di depannya, memegang kedua tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
