Happy Reading
Sore itu awalnya terasa lebih tenang.
Tapi ketenangan itu rapuh.
Gala masih berdiri di depan Bulan di kamar tamu. Jarak mereka tidak jauh, tapi terasa seperti dipisahkan dinding tak terlihat.
"Aku cuma mau kita selesaikan ini," kata Gala, berusaha terdengar tenang.
Bulan mengangkat wajahnya. "Selesaikan atau kamu cuma mau ini cepat selesai?"
Nada itu sudah mengandung percikan.
Gala langsung tersentak. "Kamu selalu muter balik kata-kataku."
"Nggak," jawab Bulan cepat. "Aku cuma belajar denger lebih teliti."
Kalimat itu menyenggol ego.
"Apa maksud kamu?"
"Maksudku, tiap kali kita bahas ini, ujungnya aku yang dianggap berlebihan."
"Aku nggak bilang kamu berlebihan sekarang!"
"Sekarang? Tapi kamu bilang kemarin."
Emosi mulai naik lagi. Cepat sekali.
Gala menghela napas keras. "Kita nggak bisa maju kalau kamu terus tarik ke belakang."
"Dan kita nggak bisa maju kalau kamu nggak pernah benar-benar ngerti kenapa aku sakit!"
Nada keduanya meninggi tanpa sadar.
Bulan berdiri, kini mereka benar-benar berhadapan.
"Kamu pikir aku nikmatin ribut begini?" tanya Gala.
"Kamu pikir aku nikmatin dibilang dramatis waktu aku lagi hancur?"
"Aku minta maaf!"
"Tapi kamu masih merasa aku salah!"
Hening sepersekian detik, lalu Gala menjawab dengan nada lebih tajam.
"Karena kamu juga keras kepala!"
Dan itu seperti percikan di atas bensin.
"Ya!" Bulan membalas tanpa ragu. "Aku keras kepala! Karena kalau aku lembek, aku diinjak!"
"Aku nggak pernah nginjek kamu!"
"Tapi kamu bikin aku merasa kecil!"
Suara mereka kini tidak lagi terkendali.
Di luar kamar, Mama Gala bisa mendengar nada yang kembali meninggi.
Di dalam, Gala berjalan menjauh dua langkah lalu kembali lagi, emosinya ikut melonjak.
"Kamu selalu pakai perasaan!" katanya frustrasi.
"Karena ini soal perasaan!" bentak Bulan. "Rumah tangga itu bukan laporan kerja yang bisa kamu analisa pakai logika doang!"
"Kamu juga nggak pernah lihat dari sisi aku!"
"Karena kamu nggak pernah jelasin sisi kamu tanpa nyalahin aku!"
Napas mereka sama-sama berat.
Keduanya sama-sama keras.
Sama-sama tidak mau kalah.
Gala menatap tajam. "Kalau tiap masalah kamu langsung bangun tembok, gimana aku bisa dekat?"
Bulan tertawa kecil, pahit. "Tembok itu aku bangun karena tiap aku buka pintu, aku malah ditembak pakai kata-kata kamu."
"Itu berlebihan!"
"Nah, itu lagi!" suara Bulan pecah. "Kamu selalu meremehkan!"
Gala membalas dengan nada tinggi, "Kamu selalu membesar-besarkan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomansaTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
