Thirty Seven

204 24 2
                                        

Happy Reading

Sejak malam itu, Gala tidak lagi hanya menunggu kabar.

Ia mulai memperhatikan.

Bukan dengan amarah. Bukan dengan cara frontal seperti dulu.

Diam-diam.

Ia tahu Langit tidak akan memberinya alamat. Tidak akan membuka perlindungan yang sudah ia bangun untuk Bulan. Maka satu-satunya cara yang terpikir oleh Gala adalah mengikuti jejaknya.

Beberapa hari ia gagal.

Langit selalu sulit ditebak. Jadwalnya berubah-ubah. Mobilnya kadang tidak terlihat. Gala bahkan sempat merasa konyol—seorang direktur perusahaan besar malah sibuk membuntuti orang seperti detektif amatir.

Namun suatu sore, kesempatan itu datang.

Gala melihat mobil Langit keluar dari sebuah toko perlengkapan bayi. Tas besar dimasukkan ke bagasi. Wajah Langit terlihat serius, fokus.

Tanpa berpikir panjang, Gala menyalakan mobilnya dan mengikuti dari jarak cukup jauh.

Mobil itu keluar dari pusat kota.

Masuk ke jalan yang semakin sempit.

Aspal berubah menjadi beton kasar, lalu sebagian tanah berbatu. Rumah-rumah besar berganti menjadi rumah sederhana dengan pagar kayu.

Gala tidak pernah datang ke daerah seperti ini sebelumnya.

Langit akhirnya berhenti di sebuah kampung kecil yang tenang. Anak-anak masih bermain di halaman, suara ayam terdengar sesekali. Sore itu terasa hangat.

Gala mematikan mesin, tetap berada cukup jauh agar tidak terlihat.

Ia melihat Langit turun dari mobil. Mengambil beberapa kantong belanja—perlengkapan bayi, mungkin juga makanan. Langit berjalan menuju sebuah rumah sederhana bercat putih yang mulai memudar.

Tidak ada papan nama.

Tidak ada tanda apa pun.

Langit tidak masuk.

Ia hanya menaruh barang-barang itu di depan pintu. Mengetuk sekali. Lalu mundur beberapa langkah.

Pintu terbuka pelan.

Dari kejauhan, Gala tidak bisa melihat jelas siapa yang membukanya. Hanya siluet seseorang dengan tubuh yang tampak lebih berisi dari biasanya.

Seseorang yang berdiri sambil menahan pinggangnya sejenak.

Jantung Gala berdetak keras.

Bulan?

Ia hampir keluar dari mobil.

Hampir.

Namun Langit masih berdiri di sana. Tatapannya waspada, seolah tahu ada mata yang mengawasi.

Orang di depan pintu mengambil barang-barang itu. Tidak ada percakapan panjang. Hanya anggukan kecil.

Pintu kembali tertutup.

Langit menunggu beberapa detik sebelum kembali ke mobil.

Gala membeku di tempatnya.

Ia tidak tahu pasti itu rumah siapa.

Ia tidak yakin seratus persen itu Bulan.

Tapi hatinya mengatakan ia tidak salah.

Dan untuk pertama kalinya sejak pencarian panjang itu, ia merasa jaraknya dengan Bulan hanya beberapa puluh meter.

Namun yang membuat dadanya semakin sesak adalah satu hal—

GALLANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang