Happy Reading
Suasana yang sudah panas berubah menjadi lebih sesak ketika suara langkah cepat terdengar dari arah ruang tamu.
"Mama nggak tahan dengar teriak-teriak begini."
Itu suara Mama Gala.
Beliau masuk dengan wajah tegang, menatap Bulan dan Gala bergantian.
"Ada apa ini?"
Gala masih berdiri dengan napas memburu. Bulan memalingkan wajah, mencoba menahan sisa tangisnya.
"Cuma salah paham, Ma," jawab Gala cepat.
Bulan tersenyum miring.
Salah paham.
Sesederhana itu.
Mama Gala mendekat ke anaknya lebih dulu. "Kamu nggak apa-apa, Nak?"
Kalimat itu seperti menyiram bensin ke api yang belum padam.
Bulan menoleh perlahan.
"Ma, Bulan cuma terlalu emosional," kata Gala, masih dengan nada kesal yang belum sepenuhnya reda.
"Terlalu emosional?" ulang Bulan lirih.
Mama Gala menghela napas panjang. "Bulan, kamu lagi hamil. Harusnya kamu lebih jaga perasaan. Jangan bikin suasana rumah begini."
Bulan terdiam.
Sesuatu di dadanya benar-benar runtuh.
"Jadi ini salah saya?" tanyanya pelan.
Mama Gala menggeleng tipis. "Bukan salah. Tapi kamu juga harus mengerti posisi suami kamu. Dia kerja capek-capek di luar kota."
Bulan tertawa kecil, muak.
"Ma... bulan cuma minta dia jujur."
"Kalau cuma soal makan dan belanja, itu hal kecil," jawab Mama Gala cepat. "Kamu jangan membesar-besarkan."
Kata itu lagi.
Membesar-besarkan.
Bulan menatap Gala, berharap—setidaknya kali ini—ia akan berdiri di sampingnya.
Tapi Gala diam.
Diam itu lebih menyakitkan daripada bantahan.
"Ma, saya bukan marah karena makan atau belanja," suara Bulan bergetar lagi. "Saya marah karena saya tahu dari orang lain."
Mama Gala menggeleng pelan. "Rumah tangga itu jangan gampang goyah cuma karena foto-foto nggak jelas. Kamu harus lebih dewasa."
Kalimat itu membuat Bulan merasa kecil.
Sangat kecil.
"Dewasa?" Bulan menelan ludah. "Saya lagi berusaha dewasa dengan nggak langsung nuduh. Saya tunggu dia jujur. Tapi yang saya dapat malah dibilang dramatis."
Mama Gala langsung menoleh ke Gala. "Kamu bilang begitu?"
Gala terlihat menyesal, tapi egonya masih berdiri.
"Itu cuma keceplosan."
Bulan menggeleng pelan.
"Enggak. Itu bukan keceplosan. Itu cara kamu lihat aku."
Suasana semakin tegang.
Mama Gala kini berdiri lebih dekat ke anaknya.
"Bulan, Mama kenal Gala dari kecil. Dia bukan laki-laki macam-macam. Kamu terlalu dipengaruhi perasaan."
Dan di situlah Bulan benar-benar merasa muak.
Bukan karena dibentak.
Bukan karena dipersalahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
Roman d'amourTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
