Thirty Three

148 13 2
                                        

Happy Reading

Pesawat yang membawa Gala dari Singapura akhirnya mendarat mulus di Bandara Soekarno-Hatta. Begitu roda pesawat menyentuh landasan, tubuh Gala terasa berat. Dua hari yang melelahkan mengurus masalah operasional cabang restorannya di luar negeri benar-benar menguras tenaga dan pikirannya.

Di luar jendela, langit Jakarta terlihat kelabu. Sama seperti suasana hatinya.

Viska duduk tidak jauh darinya. Perempuan itu terlihat lelah, tetapi tetap berusaha tersenyum setiap kali asisten mereka membicarakan laporan kerja. Gala hanya menjawab seperlunya. Sejak awal, ia memang tidak pernah membawa Viska karena alasan pribadi. Semua murni pekerjaan. Orang tua Viska memintanya membimbing Viska agar lebih serius dalam dunia bisnis. Dan Gala, sebagai seseorang yang memang terbiasa memikul tanggung jawab, menyanggupinya.

Namun kini, entah kenapa, perasaannya tidak tenang.

Begitu pesawat berhenti dan pintu dibuka, Gala langsung menyalakan ponselnya. Puluhan notifikasi masuk sekaligus. Grup keluarga. Pesan dari asistennya yang lain. Beberapa panggilan tak terjawab.

Dan nama yang paling ia cari—Bulan—tidak ada.

Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.

Dadanya terasa sesak.

Ia membuka grup keluarga. Di sana, ia membaca kabar tentang kecelakaan papi Bulan dan Embun. Jantungnya seperti berhenti sesaat. Tangannya bergetar membaca pesan lanjutan: kondisi sempat kritis, ibu Bulan pingsan, semua panik di rumah sakit.

"Kenapa tidak ada yang hubungi aku langsung..." gumamnya lirih.

Asistennya menatap heran. "Pak Gala?"

Gala tidak menjawab. Ia langsung menekan nomor Bulan.

Tidak aktif.

Ia mencoba lagi.

Tetap tidak aktif.

Untuk pertama kalinya sejak lama, Gala benar-benar merasa kehilangan kendali. Biasanya ia selalu tahu apa yang terjadi, selalu menjadi orang pertama yang mengambil keputusan. Tapi kali ini, ia tertinggal.

Ia menoleh pada Viska yang berdiri di sampingnya.

"Kita langsung ke rumah sakit," ucapnya singkat.

Viska mengangguk tanpa banyak bicara.

Di dalam mobil menuju rumah sakit, suasana hening. Asisten-asistennya sibuk membicarakan jadwal meeting yang tertunda, tapi Gala sama sekali tidak mendengar. Kepalanya hanya dipenuhi satu hal: Bulan.

Ia teringat pertengkaran terakhir mereka. Kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Raut wajah Bulan yang terluka. Dan caranya mengacuhkan Bulan ketika ia merasa terlalu lelah untuk menjelaskan apa pun.

Sekarang semuanya terasa seperti bumerang.

Mobil berhenti di depan rumah sakit. Gala turun lebih dulu. Langkahnya cepat, hampir berlari. Begitu sampai di lantai rawat inap, suasana terasa sunyi dan berat.

Ia melihat mertuanya duduk di kursi lorong. Wajah ibu Bulan masih pucat, tapi sudah sadar. Langit berdiri di dekat jendela. Dara duduk sambil memangku Dirga yang tertidur dengan suster di sampingnya.

Semua mata beralih padanya.

Dan untuk pertama kalinya, Gala merasakan tatapan yang berbeda.

Bukan hangat. Bukan ramah.

Dingin.

Langit menatapnya tanpa ekspresi. "Baru sampai?"

Gala mengangguk. "Kenapa tidak ada yang kabari aku?"

GALLANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang