eighteen

158 14 2
                                        

happy reading

Rumah keluarga Gala hari itu penuh dengan doa dan tamu undangan. Acara empat bulanan kandungan Bulan berlangsung khidmat. Senyum tersungging di wajah semua orang setidaknya di permukaan.

Bulan duduk anggun di samping Gala. Tangannya sesekali mengelus perutnya yang membulat. Ia berusaha menikmati momen itu.

Sampai sebuah nama disebut pelan oleh salah satu kerabat.

"Viska datang..."

Langkah perempuan itu terdengar mantap memasuki halaman. Vista tampil rapi dan elegan, senyumnya sopan, auranya tenang.

Dada Bulan langsung terasa sesak.

Bukan karena Gala menoleh terlalu lama. Bukan karena ada gestur berlebihan.

Tapi karena Bulan tahu... ia tidak pernah menjadi menantu yang benar-benar diharapkan.

Mama Gala menyambut Vista dengan wajah cerah.

"Viska... kamu makin cantik saja."

Bulan tersenyum tipis, meski hatinya mencelos.

Ia benci perasaan ini.
Cemburu. Tidak percaya diri. Takut dibandingkan.

Viska mendekat dengan sopan. "Selamat ya, Bulan. Semoga sehat sampai persalinan."

"Terima kasih," jawab Bulan lembut.

Tidak ada nada kasar. Tidak ada sindiran. Justru itu yang membuatnya semakin tidak enak.

Viska tidak melakukan kesalahan apa pun. Pernikahan mereka batal bukan sepenuhnya salahnya. Dan sekarang Vista datang dengan sikap baik.

Itu yang membuat Bulan merasa bersalah karena... tetap cemburu.

Gala merasakan tangan Bulan sedikit menegang di sampingnya. Tanpa banyak kata, ia menggenggamnya pelan.

Bulan menoleh sekilas. Tatapan Gala tidak menunjukkan penyesalan. Tidak juga keraguan. Hanya ketegasan.

Tapi rasa cemburu tidak semudah itu hilang.

Setiap kali mama Gala tertawa kecil bersama Vista, hati Bulan seperti ditarik pelan. Ia tahu ibu mertuanya dulu sangat menyukai Vista. Cantik, berasal dari keluarga terpandang, tidak membawa "masalah".

Berbeda dengannya.

Bulan menunduk, mencoba mengatur napas.

"Aku nggak apa-apa," bisiknya ketika Gala bertanya pelan.

Padahal jelas ia tidak baik-baik saja.

Ia cemburu.
Tapi ia juga merasa tidak berhak marah.

Karena Viska bersikap sopan.
Karena Gala tidak menunjukkan tanda-tanda masih memiliki rasa.
Karena semua ini terjadi akibat masa lalu yang rumit.

Di satu sisi, Bulan takut dibandingkan.
Di sisi lain, ia tidak ingin terlihat kecil hati.

Ketika acara hampir selesai, Viska berpamitan lebih dulu. Sebelum pergi, ia menatap Bulan sejenak.

"Kamu beruntung," ucap Viska pelan. "Jaga dia baik-baik."

Kalimat itu sederhana. Tidak terdengar pahit.

Namun justru membuat hati Bulan makin campur aduk.

Setelah Vista benar-benar pergi, Bulan baru menghembuskan napas panjang.

"Kamu cemburu?" tanya Gala pelan saat mereka sudah agak menjauh dari keramaian.

Bulan terdiam beberapa detik, lalu mengangguk kecil.

GALLANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang