Happy Reading
Ruangan itu belum benar-benar tenang.
Udara terasa berat.
Dan ketika Bulan melihat ekspresi Gala yang masih mencoba menjelaskan dengan nada logis, sesuatu di dalam dirinya justru semakin pecah.
"Kamu tahu apa yang paling bikin aku sakit?" suara Bulan bergetar, tapi bukan karena lemah—karena menahan terlalu lama.
Gala menatapnya, rahangnya mengeras. "Aku sudah bilang aku salah nggak cerita."
"Bukan cuma itu!" Bulan menaikkan suara. "Kamu selalu merasa keputusan kamu yang paling benar. Kamu selalu mikir 'ini nggak penting', 'itu nggak usah dibilang'. Kamu sadar nggak sih, dari situ aku jadi merasa kecil?"
Gala mulai tersulut. "Aku cuma nggak mau kamu kepikiran!"
"Tapi kamu nggak pernah tanya aku mau tahu atau nggak!"
Tangis Bulan kini tidak bisa ditahan. Air matanya jatuh deras, tapi suaranya tetap keras.
"Kamu tahu aku hamil!" ia memukul dadanya sendiri pelan, frustrasi. "Perasaanku lagi nggak stabil. Aku lagi butuh diyakinkan, bukan disisihkan dari cerita hidup kamu!"
Gala terdiam sepersekian detik.
Lalu emosinya ikut meledak.
"Jadi sekarang semua salah aku?" suaranya meninggi. "Aku kerja buat siapa? Aku ke luar kota buat siapa? Buat kamu juga, Bulan!"
"Aku nggak pernah minta kamu mengorbankan kejujuran demi kerja!"
Suara mereka saling bertabrakan.
Bulan menunjuk ponselnya yang masih terbuka di meja.
"Aku lihat suamiku senyum sama perempuan lain. Duduk berhadapan. Milih baju. Dan aku tahu dari orang asing! Kamu pikir itu rasanya apa?!"
"Itu cuma foto!" balas Gala. "Kamu nggak lihat situasinya!"
"Karena kamu nggak pernah kasih aku kesempatan lihat situasinya!"
Hening sepersekian detik.
Lalu Gala berkata, tanpa sadar nadanya menusuk:
"Kamu ini kenapa jadi segini posesif?"
Kalimat itu.
Seperti tamparan.
Wajah Bulan berubah.
"Apa?"
"Aku nggak selingkuh! Tapi kamu langsung mikir sejauh itu!"
Bulan tertawa kecil—tawa yang hancur.
"Jadi sekarang aku yang salah karena merasa sakit?"
"Aku nggak bilang gitu!"
"Tapi itu yang kamu maksud!"
Tangannya gemetar.
"Aku nggak marah karena kamu makan sama dia. Aku marah karena kamu bikin aku merasa bodoh."
Gala mengusap rambutnya kasar. Frustrasi.
"Kamu terlalu membesar-besarkan."
Dan itu kesalahan kedua.
Bulan mundur selangkah, seolah kata-kata itu mendorongnya secara fisik.
"Membesar-besarkan?"
Suaranya kini lebih rendah. Tapi jauh lebih berbahaya.
"Kamu tahu aku berusaha percaya. Aku bahkan nggak langsung nanya. Aku tunggu kamu jujur. Tapi kamu pilih diam."
Gala mulai sadar situasi makin tak terkendali.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
Storie d'amoreTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
