Twenty Eight

117 5 0
                                        

Happy Reading

Keheningan setelah ledakan itu tidak membawa damai.

Justru terasa lebih menyiksa.

Gala memijat pelipisnya. Wajahnya pucat, napasnya berat. Semua suara seperti bercampur di kepalanya—teriakan, tuduhan, tangisan.

"Aku pusing..." gumamnya pelan.

Bukan lembut. Bukan juga peduli.

Hanya lelah.

Ia mengambil tasnya yang tadi diletakkan di lantai, berjalan melewati Bulan tanpa menatapnya.

Gerakan itu sederhana.

Tapi terasa seperti penolakan.

Bulan berdiri kaku.

"Gala..." suaranya lirih, tidak lagi keras.

Namun Gala tidak berhenti.

"Aku capek," katanya singkat. "Aku nggak mau lanjut sekarang."

Ia masuk ke kamar, menutup pintu tanpa membanting—tapi cukup keras untuk meninggalkan gema.

Dan itu lebih menyakitkan daripada bentakan.

Di ruang tengah, Bulan berdiri mematung.

Bukan karena ingin bertengkar lagi.

Bukan karena ingin menang.

Ia hanya ingin didengar.

Tapi yang ia dapat—diabaikan.

Mama Gala menghela napas panjang. "Sudahlah. Biarkan dia istirahat."

Bulan menoleh perlahan.

"Ma... saya belum selesai bicara."

"Tapi dia sudah lelah," jawab Mama Gala.

Kalimat itu lagi.

Dia lelah.
Dia capek.
Dia pusing.

Seolah hanya Gala yang punya batas.

Bulan menunduk. Air matanya jatuh lagi, tapi kini sunyi.

"Aku juga capek..." bisiknya hampir tak terdengar.

Namun tidak ada yang menyahut.

Dari balik pintu kamar, tidak ada langkah keluar.

Tidak ada permintaan maaf tambahan.

Tidak ada usaha untuk memeluk.

Hanya diam.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi—

Bulan merasa sendirian.

Bukan karena Gala marah.

Tapi karena ia memilih pergi ketika Bulan masih hancur di depannya.

Ia perlahan duduk di sofa, memeluk dirinya sendiri.

Bukan untuk dramatis.

Bukan untuk mencari simpati.

Tapi karena hatinya benar-benar terasa kosong.

Sementara di balik pintu, Gala memejamkan mata, mencoba menghindari suara tangis yang masih samar terdengar.

Ia pikir dengan menjauh, semuanya akan reda.

Tapi ia tidak sadar—

Kadang yang membuat luka semakin dalam bukan pertengkarannya.

Melainkan saat salah satu memilih mengabaikan.

*****

Malam turun tanpa ada yang benar-benar bicara lagi.

GALLANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang