Thirty Six

218 22 2
                                        

Happy Reading

Hari-hari berikutnya berjalan lambat bagi Gala.

Ia tetap datang ke kantor. Tetap menghadiri rapat. Tetap memberi keputusan. Secara kasat mata, tidak ada yang berubah. Para karyawannya masih melihat sosok pemimpin yang tegas dan fokus.

Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang retak.

Setiap kali melihat laporan keuangan, pikirannya justru melayang pada satu hal yaitu hampir sembilan bulan.

Ia mulai menghitung tanggal sendiri.

Menghitung kemungkinan hari lahir.

Menghitung kemungkinan bahwa ia mungkin tidak ada di sana.

Suatu malam, Gala kembali datang ke rumah orang tua Bulan. Bukan untuk menekan. Bukan untuk mencari paksa.

Hanya duduk.

Mami Bulan menyambutnya seperti biasa. "Sudah makan?"

"Iya, Mi."

Papi Bulan kini sudah bisa berjalan pelan. Beliau duduk di ruang tengah, membaca koran.

Gala duduk di kursi yang dulu sering ia tempati bersama Bulan. Kursi yang sekarang terasa asing.

Embun keluar dari kamar, menatapnya sekilas. Kali ini tidak ada kalimat tajam. Tapi tatapannya tetap dingin.

"Papi sudah kontrol lagi?" tanya Gala mencoba membuka percakapan.

"Sudah. Dokter bilang tinggal pemulihan," jawab Papi Bulan pelan.

Hening.

Beberapa detik yang terasa panjang.

"Papi..." Gala akhirnya berbicara lebih pelan, "kalau Bulan... kalau nanti waktunya melahirkan... Gala berhak tahu, kan?"

Kalimat itu membuat Embun berhenti melangkah.

Papi Bulan menatapnya lama. Tidak marah. Tidak menghakimi.

"Kalau waktunya tiba," jawab beliau perlahan,

"itu tergantung hati Bulan."

Jawaban itu sederhana. Tapi membuat Gala sadar satu hal: bahkan mertuanya tidak akan memaksakan keputusan atas nama dirinya.

Semua kembali pada Bulan.

Dan untuk pertama kalinya, Gala menyadari bahwa kendali bukan lagi di tangannya.

Sementara itu, di rumah kecil di kampung, pagi terasa cerah.

Bulan duduk di teras dengan perut yang sudah sangat besar. Nafasnya kadang pendek, tapi wajahnya tetap tenang.

Dara baru saja datang dua hari lalu, memastikan semuanya siap. Tas persalinan sudah disiapkan. Nomor bidan sudah dihubungi. Rumah sakit terdekat sudah ditentukan.

"Kamu tidak takut?" tanya Dara suatu sore.

Bulan tersenyum kecil. "Takut pasti ada."

"Dia masih cari kamu."

Bulan mengelus perutnya pelan. "Biarkan dia cari."

"Kamu tidak kasihan?"

Bulan terdiam cukup lama sebelum menjawab.

"Aku sudah terlalu lama kasihan sama orang lain sampai lupa kasihan sama diri sendiri."

Dara tidak membantah.

Ia tahu, keputusan ini bukan karena benci. Bukan karena ingin menghukum.

Tapi karena Bulan ingin melahirkan dalam keadaan hati yang tidak bergetar oleh pertengkaran.

GALLANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang