Happy Reading
Langit siang itu terasa kelabu ketika telepon itu datang.
"Ini keluarga Pak Arman? Mohon segera ke rumah sakit. Beliau dan seorang perempuan muda mengalami kecelakaan cukup parah."
Tangan Bulan langsung gemetar.
"Papi... dan Embun?"
"Iya, Mbak. Kondisinya kritis."
Kata kritis membuat lututnya hampir tak sanggup berdiri.
-
Di perjalanan menuju rumah sakit, Bulan mencoba menghubungi Gala.
Panggilan pertama - tidak tersambung.
Panggilan kedua - nomor tidak aktif.
Panggilan ketiga - langsung terputus.
Ia mencoba lagi.
Dan lagi.
Tetap tidak bisa dihubungi sama sekali.
"Angkat, Gala... tolong..." suaranya pecah di dalam mobil.
Ia kirim pesan.
"Ayah dan Embun kecelakaan. Parah. Aku di RS."
Pesan gagal terkirim.
Sinyal hilang.
Nomor Gala seperti benar-benar lenyap dari dunia.
Dalam keadaan seperti ini, Bulan tidak peduli soal ego, soal pertengkaran, soal Viska. Ia hanya ingin suaminya ada.
Tapi yang ia dapat hanya layar kosong.
-
IGD dipenuhi suara sirene dan langkah tergesa.
Ketika Bulan melihat Papinya dibawa masuk ruang operasi dengan tubuh penuh darah dan wajah pucat tak bergerak, dunia terasa runtuh.
"keadaan bapak mengalami pendarahan hebat dan benturan keras di kepala. Kami harus segera operasi," ujar dokter tegas.
"Kalau adik saya?" suara Bulan gemetar.
"Adik anda mengalami luka dalam dan patah tulang. Kondisinya tidak stabil."
Tidak stabil.
Bulan hampir jatuh.
Di sampingnya, ibunya sudah pucat.
"Mi..." Bulan mencoba memegang tangan ibunya.
Tapi Maminya tiba-tiba limbung dan pingsan.
"Mami!" teriak Bulan histeris.
Perawat segera membawa ibunya ke kursi roda. Tekanan darahnya turun drastis karena syok.
Lorong rumah sakit berubah menjadi kacau.
Papiinya di ruang operasi.
Embun di ruang tindakan.
maminya pingsan.
Dan Gala-tidak bisa dihubungi sama sekali.
Bulan berdiri di tengah lorong dengan napas tak beraturan. Ia mencoba lagi menelepon.
Masih tidak bisa.
Air matanya jatuh deras.
-
Tak lama kemudian, langkah cepat terdengar.
Langit datang lebih dulu, wajahnya panik. Beberapa menit kemudian, Dara menyusul-datang terpisah, sama-sama tergesa.
"Bulan!" seru Langit. "Kondisinya gimana?"
"Parah..." suara Bulan bergetar. "Papi lagi operasi. Embun nggak stabil.Mami tadi pingsan."
Dara langsung memeluk Bulan yang sudah hampir kehilangan tenaga.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
