Twenty One

145 11 0
                                        

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang hampir sama.

Tidak ada percakapan panjang yang penuh haru.
Tidak ada perubahan drastis.

Tapi ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang mulai tumbuh.

Pagi itu, kembali ke dapur. Kali ini ia tidak menunggu ditanya. Ia langsung membantu memotong buah.

Ibunya berdiri di sebelahnya, mengawasi sebentar.

"Pisau yang itu lebih tajam," ucapnya singkat sambil menunjuk.

Bulan mengangguk. "Iya, Ma."

Beberapa menit mereka bekerja berdampingan tanpa bicara. Hanya suara talenan dan pisau yang terdengar.

Aneh rasanya. Dulu keheningan seperti ini terasa menekan. Sekarang... terasa biasa saja.

Saat Bulan sedikit meringis karena punggungnya pegal, ibunya berhenti memotong.

"Kalau capek, duduk," katanya.

"Nggak apa-apa, Ma."

"Jangan sok kuat."

Kalimat itu terdengar tajam di permukaan. Tapi Bulan tahu itu bukan sindiran. Itu peringatan.

Ia duduk perlahan.

Ibunya melanjutkan memotong buah tanpa melihatnya, tapi beberapa detik kemudian ia bertanya, "Semalam tidur nyenyak?"

Pertanyaan sederhana. Namun cukup membuat Bulan terdiam sesaat.

"Lumayan," jawabnya pelan.

Siang harinya, Bulan menemani ibunya menyiram tanaman di halaman. Ia tidak banyak membantu, hanya berdiri sambil memegang perutnya.

"Terlalu panas, masuk saja," kata ibunya.

Bulan tersenyum kecil. "Mama nggak masuk?"

"Sudah biasa."

Jawaban itu khas. Datar. Tapi Bulan mulai bisa membaca maknanya.

Bukan tidak peduli. Hanya tidak pandai mengungkapkan dengan lembut.

Sore menjelang, tiba-tiba Bulan merasa emosinya naik tanpa sebab. Hal kecil membuatnya sensitif. Ia masuk kamar dan menangis pelan.

Tak lama kemudian terdengar ketukan.

Ibunya membuka pintu sedikit.

"Kamu kenapa?"

Bulan menghapus air matanya cepat. "Nggak apa-apa."

Ibunya berdiri beberapa detik, memperhatikan wajahnya.

"Kalau lagi hamil memang gampang berubah mood," ucapnya pelan. "Mama dulu juga begitu."

Tidak ada pelukan. Tidak ada belaian.

Tapi kali ini ia tidak langsung pergi.

Ia masuk sebentar, duduk di kursi dekat tempat tidur.

"Jangan dipendam sendiri. Gala memang kerja, tapi kamu bisa cerita ke Mama kalau cuma soal pusing atau mual."

Kalimat itu pelan. Tidak panjang. Tapi jelas.

Bulan menunduk, hatinya menghangat perlahan.

"Iya, Ma."

Beberapa menit kemudian, ibunya berdiri.

"Kalau mau makan sesuatu bilang. Jangan nunggu ditawarin."

Lalu keluar lagi seperti biasa.

Saat malam tiba dan Gala pulang, ia langsung merasa ada sesuatu yang berbeda.

GALLANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang