Happy Reading
Embun masih berdiri di depan Bulan, menjelaskan panjang lebar tentang kemungkinan motif Faro.
Tentang dendam lama.
Tentang ego yang belum sembuh.
Tentang permainan licik yang sengaja ingin memecah.
Tapi Bulan sudah tidak benar-benar mendengar.
Ia duduk diam, menatap dua foto itu sekali lagi.
"Iya, mungkin Faro yang kirim," ucapnya pelan.
Embun mengangguk cepat. "Berarti ini jelas mau bikin Kakak sama Kak Gala ribut."
Bulan menarik napas dalam.
"Aku nggak peduli itu siapa yang kirim."
Embun terdiam.
Bulan mengangkat wajahnya. Matanya masih basah, tapi tatapannya berubah.
"Masalahnya bukan di Faro."
Bukan di orang luar.
Bukan di pengirim foto.
Masalahnya ada di satu hal yang lebih sederhana—
Kejujuran.
"Aku cuma mau tahu... kenapa Gala nggak cerita," bisiknya.
Itu yang paling mengganggu.
Kalau memang makan kerja, kenapa tidak bilang?
Kalau memang cuma menemani beli sesuatu, kenapa tidak cerita ringan saja?
Bulan tidak marah karena foto itu ada.
Ia marah karena ia tahu bukan dari suaminya sendiri.
Embun duduk di sampingnya.
"Mungkin menurut Kak Gala itu nggak penting?"
Bulan tersenyum pahit.
"Kalau nggak penting, harusnya lebih gampang buat diceritakan."
Kalimat itu menggantung di udara.
Bulan memegang perutnya pelan. Napasnya mulai berat lagi, bukan karena tangis, tapi karena emosi yang kini berubah bentuk.
Ini bukan lagi cemburu buta.
Ini bukan lagi permainan Faro.
Ini soal posisi dirinya sebagai istri.
Ia merasa seperti orang terakhir yang tahu.
Dan itu menyakitkan.
Ia teringat percakapan telepon tadi malam.
Nada Gala tetap hangat. Perhatian. Tidak ada celah kebohongan yang jelas.
Tapi juga tidak ada keterbukaan penuh.
Dan sekarang yang membuat dadanya panas bukan bayangan Viska.
Melainkan kemungkinan bahwa Gala memilih menyederhanakan cerita... dengan cara menghilangkan bagian tertentu.
"Aku nggak butuh suami yang sempurna," ucap Bulan pelan. "Aku cuma butuh suami yang jujur."
Kalimat itu terasa berat keluar dari bibirnya.
Ia berdiri perlahan, berjalan ke jendela kamar.
Lampu-lampu luar terlihat samar.
Besok Gala pulang.
Dan untuk pertama kalinya sejak awal kejadian ini, Bulan merasa emosinya mulai mengeras.
Bukan meledak.
Tapi mengendap.
Ia tidak akan menuduh.
Ia tidak akan langsung memperlihatkan foto.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomansaTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
