Happy Reading
Pintu depan sudah lama tertutup.
Suara mobil Gala menghilang dari halaman, tapi tidak ada rasa kehilangan yang muncul di dada Bulan.
Yang ada hanya sisa panas.
Ia tidak menangis pagi itu.
Tidak juga termenung lama.
Ia bangkit dengan wajah datar, mata sembab tapi kering. Emosinya belum turun—justru mengeras.
Di dapur, mertuanya sedang menata ulang meja makan.
"Sudah bangun?" tanyanya singkat.
"Iya, Ma," jawab Bulan pendek.
"Kalau mau sarapan, ambil saja."
"Aku nggak lapar."
Nada itu bukan kasar. Tapi jelas dingin.
Mama Gala menoleh sedikit. "Jangan biasakan emosi sampai nggak makan."
Bulan tersenyum tipis. "Bukan karena emosi."
Padahal jelas karena itu.
Ia duduk sebentar di kursi makan, menatap meja yang semalam terasa seperti medan perang.
Tidak ada rasa ingin memperbaiki.
Tidak ada rasa ingin menjelaskan.
Yang ada hanya satu pikiran:
Kenapa harus aku terus yang mengalah?
Ia berdiri lagi tanpa menyentuh makanan.
Kembali ke kamar tamu.
Mengambil ponselnya.
Tidak ada pesan dari Gala.
Dan kali ini, tidak ada rasa kecewa.
Ia malah merasa... kosong.
"Bagus," gumamnya pelan. "Sama-sama diam saja."
Ia membuka galeri, melihat lagi foto-foto yang dikirim itu.
Bukan untuk menangis.
Tapi untuk mengingat.
Untuk menguatkan dirinya bahwa kemarin bukan sekadar perasaan berlebihan.
"Lebay," ia mengulang kata itu dengan nada getir.
Tangannya mengepal.
"Kalau peduli dianggap lebay, mungkin memang lebih baik nggak peduli sekalian."
Ia meletakkan ponsel keras di kasur.
Matanya tidak lagi basah.
Hanya tajam.
Sementara di kantor, Gala beberapa kali membuka layar chat. Ingin menulis sesuatu.
Tapi belum sempat ia kirim, muncul notifikasi bahwa pesan yang ia ketik belum dibalas—karena memang belum pernah ia kirim.
Di rumah, Bulan memilih berbaring lagi.
Bukan karena sedih.
Tapi karena ia sedang menarik diri.
Bukan ingin dimengerti.
Bukan ingin dikejar.
Ia merasa lelah berharap.
Dan saat seseorang yang biasanya penuh perasaan tiba-tiba memilih tidak peduli—
Itu bukan karena ia sudah tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
