Happy Reading
Dua bulan.
Sudah dua bulan Bulan menghilang dari kehidupan Gala.
Tanpa kabar. Tanpa pesan. Tanpa penjelasan lebih lanjut selain kalimat terakhirnya: jangan cari.
Kandungan Bulan kini hampir sembilan bulan. Perutnya sudah membesar sempurna, langkahnya melambat, napasnya kadang terasa berat. Tapi wajahnya... justru lebih tenang.
Ia tinggal di sebuah rumah kecil di kampung pegunungan yang jauh dari hiruk pikuk kota. Rumah kayu sederhana dengan teras menghadap sawah hijau dan perbukitan yang berkabut di pagi hari. Udara di sana sejuk. Anginnya bersih. Tidak ada suara klakson, tidak ada notifikasi ponsel yang memicu cemas.
Hanya suara burung. Angin. Dan detak jantungnya sendiri.
Rumah itu milik kenalan lama Dara. Hanya Langit dan Dara yang tahu lokasi persisnya. Bahkan orang tua Bulan hanya diberi tahu bahwa ia baik-baik saja dan butuh waktu hingga melahirkan.
Bulan memilih benar-benar memutus diri.
Di pagi hari, ia biasa duduk di teras dengan secangkir susu hangat. Tangannya mengelus perutnya pelan.
"Kita tenang dulu ya..." bisiknya pada bayi dalam kandungannya.
Ia tidak lagi memikirkan pesan-pesan anonim. Tidak lagi memikirkan Viska. Tidak lagi memikirkan debat panjang yang tak pernah selesai.
Ia sadar satu hal selama dua bulan ini: selama ini ia terlalu fokus menunggu Gala berubah, sampai lupa menenangkan dirinya sendiri.
Sekarang, untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu, ia bisa tidur tanpa mimpi buruk.
Bisa makan tanpa rasa mual karena stres.
Bisa tersenyum tanpa beban.
Kadang, rasa sepi memang datang. Apalagi di malam hari saat angin berhembus lebih kencang dan rumah kecil itu terasa luas. Tapi sepi itu tidak lebih menyakitkan daripada merasa sendirian di dalam pernikahan.
Langit sesekali datang diam-diam untuk memastikan keadaan adiknya baik. Ia tidak pernah lama. Hanya memastikan kebutuhan Bulan cukup, memeriksa kondisi kehamilan, lalu pergi.
Langit sendiri masih berjuang memperbaiki hubungannya dengan Dara. Ironisnya, kepergian Bulan justru membuka mata Langit tentang banyak hal dalam rumah tangganya sendiri. Ia mulai lebih banyak mendengar. Lebih banyak diam.
Dara juga sering menelepon Bulan.
"Kamu yakin kuat sendiri?" tanya Dara suatu malam.
Bulan tersenyum kecil. "Lebih kuat dari yang aku kira."
"Dia masih cari kamu."
Bulan terdiam beberapa detik.
"Biarkan."
Di sisi lain kota, Gala tidak pernah benar-benar berhenti mencari.
Awalnya ia menahan diri, menghormati permintaan Bulan. Tapi setelah satu minggu, dua minggu, satu bulan... kesabarannya berubah jadi gelisah.
Ia mencoba bertanya pada orang tua Bulan. Jawabannya sama: Bulan baik-baik saja.
Ia mencoba menekan Langit. Jawabannya dingin: "Dia aman."
"Aman di mana?" tanya Gala waktu itu.
"Tidak perlu kamu tahu dulu."
Dan untuk pertama kalinya, Gala tidak punya kendali.
Ia tetap bekerja. Restoran-restorannya berjalan. Proyek ekspansi tetap lanjut. Secara bisnis, semuanya stabil.
Tapi hidupnya tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomansaTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
