Twenty three

110 6 0
                                        

Happy Reading

Keesokan paginya kabar datang lebih cepat dari yang Bulan harapkan.

Proyek kerja Gala harus diperpanjang satu hari lagi.

Satu hari.

Bagi orang lain mungkin terdengar biasa. Tapi bagi Bulan, yang sudah dua hari merasa sepi dan terlalu banyak berpikir, tambahan satu hari terasa panjang.

Rumah terasa lebih sunyi. Ia sudah merindukan rutinitas kecil—suara langkah Gala, kebiasaannya menaruh kunci sembarangan, atau hanya kehadirannya di ruangan yang sama.

Siang itu Bulan duduk di ruang makan rumah mertua. Mama Gala sedang berbincang dengan salah satu kerabat lewat telepon, tanpa sadar suaranya cukup terdengar.

"Iya, Viska sekarang memang bantu di kantor Gala. Sudah beberapa bulan juga..."

Sendok di tangan Bulan berhenti di udara.

Viska?

Nama itu seperti menekan tombol lama yang berusaha ia abaikan.

Viska.

Mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengan Gala. Hubungan yang lebih banyak berjalan karena keinginan orang tua, bukan karena cinta.

Bulan tahu itu.

Ia juga tahu Gala tidak pernah benar-benar nyaman dengan Viska. Bahkan setelah semuanya selesai dan Gala memilih menikah dengannya, sikap Gala selalu jelas—tidak ada ruang untuk masa lalu.

Tapi fakta bahwa Viska sekarang bekerja di kantor Gala—

Itu baru.

Dan ia sama sekali tidak tahu.

Jantung Bulan berdetak lebih cepat.

Kalimat Mama Gala tadi masih terngiang.

Sudah beberapa bulan juga.

Beberapa bulan.

Artinya bukan keputusan baru. Artinya sudah berjalan cukup lama. Artinya selama ini Gala tidak pernah merasa perlu menceritakannya... atau mungkin tidak sempat.

Pikiran Bulan langsung melompat pada satu hal lain.

Kalau Viska bekerja di kantor Gala...

Dan sekarang Gala sedang keluar kota untuk proyek...

Berarti Viska juga ikut?

Tangannya refleks mengusap perutnya.

Ia mencoba tetap tenang.

Ia tahu Gala. Ia tahu suaminya itu bukan tipe yang bermain dua kaki. Bahkan dulu saat masih dalam proses dijodohkan pun, Gala tidak pernah memberi harapan berlebihan pada Viska.

Tapi hati perempuan tidak selalu tunduk pada logika.

Walau ia tahu Gala tidak menyukai Viska,
walau ia tahu pernikahan mereka bukan karena cinta,

Bulan tetap tidak bisa mengabaikan satu kemungkinan—

Bagaimana kalau Viska masih punya rasa?

Bagaimana kalau kedekatan kerja membuka ruang yang dulu tertutup?

Bagaimana kalau perasaan lama yang belum sepenuhnya padam... muncul kembali?

Ia benci pada dirinya sendiri karena berpikir sejauh itu.

Ia tidak ingin menjadi istri yang penuh curiga.

Tapi kehamilan, jarak, dan kesepian adalah kombinasi yang membuat pikirannya liar.

GALLANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang