Happy Reading
Hari kedua Gala di luar kota, pagi terasa lebih santai di rumah orang tua Bulan.
Embun sudah lebih dulu berangkat ke kampus mengurus persiapan wisuda. Mama sibuk di dapur. Papa duduk di teras seperti biasa.
Sementara itu, Bulan menatap pantulan dirinya di cermin kamar. Perutnya semakin terlihat jelas. Wajahnya sedikit lebih berisi. Tapi hari ini ada niat berbeda di hatinya.
Ia ingin keluar. Bukan untuk urusan keluarga. Bukan untuk kontrol kandungan. Bukan untuk kewajiban.
Hanya untuk dirinya sendiri.
Tepat menjelang siang, Priska datang menjemput dengan energinya yang selalu berlebihan.
"Bumil harus kena matahari dan ketawa," katanya sambil menggandeng tangan Bulan hati-hati.
Bulan tersenyum kecil.
Mobil melaju pelan menuju kafe langganan mereka sejak zaman kuliah. Tempat itu menyimpan banyak kenangan—tentang tugas, patah hati, mimpi, dan tawa panjang yang dulu terasa sederhana.
Begitu duduk, Bulan menarik napas panjang.
Rasanya berbeda berada di luar tanpa memikirkan siapa yang menilai, siapa yang memperhatikan, atau siapa yang mungkin tersinggung.
Hari itu mereka tidak membahas mertua. Tidak membahas konflik. Tidak membahas masa lalu.
Mereka membicarakan hal-hal ringan.
Tentang rencana wisuda Embun.
Tentang tren baju hamil yang lucu-lucu.
Tentang playlist lagu yang akhir-akhir ini sering diputar Bulan sebelum tidur.
Priska sesekali menggoda, membuat Bulan tertawa sampai matanya menyipit.
Sudah lama ia tidak tertawa sebebas itu.
Setelah makan siang ringan, Priska mengajaknya ke salon untuk perawatan sederhana. Tidak berlebihan. Hanya creambath dan pijat kepala ringan yang aman untuk bumil.
Saat duduk di kursi salon, rambutnya terurai dan matanya terpejam, Bulan merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini—
Tenang.
Tidak ada ekspektasi.
Tidak ada peran yang harus dijalankan.
Tidak ada perasaan harus kuat.
Ia hanya seorang perempuan yang sedang menikmati waktu.
Sore harinya mereka berjalan pelan di taman. Angin menyentuh wajah Bulan lembut. Ia memegang perutnya tanpa sadar.
"Capek?" tanya Priska.
"Enggak," jawab Bulan pelan. "Aku cuma lagi nikmatin momen."
Ia sadar, akhir-akhir ini hidupnya dipenuhi upaya memperbaiki hubungan. Menjadi istri yang lebih sabar. Menjadi menantu yang lebih berani mendekat. Menjadi calon ibu yang lebih kuat.
Hari ini, ia berhenti sejenak dari semua itu.
Ia membeli es krim kecil, meski hanya makan beberapa sendok. Ia duduk lebih lama dari biasanya. Ia membiarkan dirinya tersenyum tanpa alasan besar.
Siang itu masih terasa hangat, tetapi hati Bulan tiba-tiba mendingin.
Dari kejauhan ia melihat Dara melangkah masuk ke gedung perusahaan dengan seragam kerja yang rapi. Bukan sekadar mampir. Bukan sekadar urusan sesaat. Cara jalannya menunjukkan rutinitas.
Bulan terpaku.
Bukankah setelah menikah dengan Langit, Dara memilih berhenti bekerja? Bukankah dulu ia ingin fokus di rumah?
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
