Happy Reading
Pagi itu suasana masih tegang, tapi kali ini berbeda.
Bulan sudah berdiri dengan koper kecil di sampingnya. Wajahnya pucat, tapi sikapnya tegas. Ia sudah memutuskan.
Gala berdiri beberapa langkah di depannya. Tatapannya tajam, tapi bukan karena takut kehilangan—lebih karena egonya terusik.
"Kamu serius mau pergi begitu saja?" tanyanya.
"Iya."
"Dan minta aku jangan cari kamu?"
"Iya."
Gala tertawa kecil, bukan karena lucu—lebih karena tak percaya.
"Kamu ini istri aku, Bulan. Bukan anak kecil yang bisa pergi seenaknya."
Bulan menatapnya datar.
"aku cuma minta waktu."
"Waktu? aku ini lagi banyak urusan. Kantor cabang baru belum stabil. Proyek di Singapura kemarin juga belum benar-benar selesai. Aku tidak punya waktu untuk drama seperti ini."
Kalimat itu langsung membuat udara terasa lebih dingin.
"Drama?" ulang Bulan pelan.
"Iya. Semua ini dibesar-besarkan. Cuma soal Viska kerja bareng aku."
Bulan menarik napas panjang. "Ini bukan cuma soal Viska."
"Lalu soal apa lagi? Kamu terlalu pakai perasaan."
"Dan kamu terlalu pakai ego."
Suasana langsung menegang.
Gala menghela napas kasar.
"Aku capek, Bulan. Dua hari tidak tidur urus kerjaan di luar negeri. Baru landing, langsung hadapi kecelakaan papi kamu. Sekarang kamu mau pergi dan minta aku enggak cari? Aku enggak bisa berhenti kerja cuma untuk menenangkan emosi kamu."
Kalimat itu jelas. Tegas. Dan menyakitkan.
Bulan menatapnya beberapa detik. Tatapannya berubah—bukan lagi marah, bukan lagi sedih.
Kosong.
"aku enggak pernah minta kamu berhenti kerja."
"Ya tapi kenyataannya kamu selalu mempermasalahkan pekerjaan aku."
"Yang aku permasalahkan bukan pekerjaanmu. Tapi cara kamu memilih pekerjaan di atas semuanya."
Gala menggeleng.
"Karena pekerjaan itu tanggung jawab. Aku punya karyawan. Aku punya keluarga yang harus aku biayai."
"Dan Aku bukan bagian dari itu?"
"Kamu tahu maksud aku bukan begitu."
"Tapi terdengar begitu."
Gala mulai kehilangan sabar.
"Aku tidak bisa terus-terusan menjelaskan hal yang sama. Kalau kamu mau pergi, ya silakan. Tapi jangan jadikan aku seolah-olah suami paling buruk."
Bulan terdiam.
"Aku tidak selingkuh. Aku tidak meninggalkan kamu tanpa nafkah. Aku kerja untuk masa depan kita."
"Kalau masa depan itu tanpa rasa dihargai, untuk apa?" jawab Bulan pelan.
Gala mendecih.
"Kamu terlalu sensitif."
Kalimat itu seperti garis terakhir.
Bulan menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. "Baik."
"Baik apa?"
"Bulan tetap pergi. Dan jangan cari Bulan beberapa hari."
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
