55

1.4K 165 8
                                        

Di depan ruang ganti putri yang mulai sepi, Jennie berdiri sambil menyampirkan handuk kecil di bahunya. Ia sengaja memberi ruang bagi Lisa, meski matanya tetap waspada memperhatikan pintu. Tak lama, terdengar suara tawa renyah dari dalam—suara yang sangat Jennie kenali.

​Pintu terbuka sedikit, dan muncul sosok remaja dengan rambut dikuncir kuda yang berantakan karena keringat. Itu Seulgi, sahabat karib Lisa sejak masuk SMP.

​"Eh, Tante Jennie! Halo, Tante!" sapa Seulgi ceria sambil membungkuk sopan.

​"Halo, Seulgi. Seru ya olahraganya tadi?" jawab Jennie ramah.

​Lisa muncul dari belakang Seulgi dengan wajah yang masih memerah karena lelah, tapi matanya berbinar. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan kotak bekal berwarna pastel yang disiapkan Jennie pagi tadi.

​"Ini buat kamu, Seul. Mommy bikin dua tadi," ucap Lisa sambil menyodorkan kotak itu.

​Mata Seulgi membelalak senang. "Wah, serius?! Padahal aku tadi lupa bawa uang jajan karena buru-buru. Makasih ya, Lis! Makasih juga, Tante Jennie!"

​Tanpa ragu, Seulgi langsung memeluk Lisa erat. "Kamu emang sahabat terbaik sedunia!"

​Lisa tertawa, membalas pelukan itu dengan canggung namun terlihat sangat bahagia. "Iya, iya, sesak tahu! Makan yang banyak ya, biar nanti pas kerja kelompok kamu nggak lemes."

​Jennie yang menyaksikan pemandangan itu dari jarak satu meter merasa dadanya berdesir hangat. Ada rasa haru yang mendesak di tenggorokannya. Melihat Lisa bisa berbagi tawa, berpelukan dengan teman sebaya, dan mengobrol tanpa harus memegangi dadanya karena sesak adalah pemandangan paling mewah bagi Jennie.

Sepertinya semua malam tanpa tidur dan rasa khawatir itu terbayar lunas sekarang, batin Jennie sambil tersenyum tipis.

​"Seul, aku duluan ya. Mommy sudah nungguin," pamit Lisa setelah mereka melepaskan pelukan.

​"Oke! Sampai ketemu besok, Lis! Tante, duluan ya!" Seulgi melambaikan tangan sambil berlari menuju kelasnya, memeluk kotak bekal itu seolah-olah itu adalah harta karun.

​Lisa berjalan mendekat ke arah Jennie, langsung melingkarkan tangannya di lengan sang Mommy, menyandarkan kepalanya yang sedikit lembap karena keringat.

​"Seneng banget deh, Mom. Seulgi tadi belum makan dari pagi," gumam Lisa manja.

​Jennie mengusap rambut bungsunya itu dengan penuh kasih. "Pinter anak Mommy. Berbagi itu bikin hati senang, dan kalau hati senang, jantung Adek juga ikutan sehat. Yuk, sekarang kita pulang."

​Lisa mengangguk mantap, mengikuti langkah kaki Jennie menuju parkiran sekolah dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Hari ini bukan cuma soal basket atau bekal, tapi soal Lisa yang mulai menemukan kembali dunianya sebagai remaja biasa.

***

Hujan turun membasuh kota sejak sore, menyisakan aroma tanah basah dan udara dingin yang menembus celah jendela. Di dalam rumah, suasana terasa jauh lebih tenang. Ruang tengah hangat oleh aroma cokelat panas yang baru saja diseduh Jennie.

​Jennie duduk bersandar di sofa, memangku laptopnya. Namun, konsentrasinya buyar saat melihat Lisa duduk di dekat jendela besar, menatap rintik hujan dengan dagu bertumpu pada kedua tangan. Di telinganya terpasang earphone, dan jemarinya mengetuk-ngetuk paha mengikuti irama yang hanya ia sendiri yang dengar.

​“Adek, jangan terlalu dekat jendela. Nanti angin dinginnya masuk ke baju kamu,” tegur Jennie lembut.

​Lisa menoleh, melepas satu earphone-nya. “Nggak apa-apa, Mom. Cuma lagi dengerin lagu baru yang mau dinyanyiin Kak Rosé buat acara perpisahan kakak kelas nanti.”

My Little LightCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang