54

1.2K 181 14
                                        

Malam harinya, setelah Lisa tertidur di kamarnya sendiri—sebuah kemajuan besar karena ia akhirnya berani tidur sendirian—Kai dan Jennie duduk di balkon kamar mereka. Langit malam itu sangat cerah, bertabur bintang yang seolah ikut merayakan ketenangan mereka.

​"Aku sudah mencabut beberapa kamera CCTV di dalam rumah hari ini," Kai memulai percakapan sambil merangkul bahu Jennie.

​Jennie menoleh, terkejut namun senang. "Benarkah?"

​"Iya. Aku sadar, yang paling penting adalah kepercayaan. Adek sudah percaya pada kita, dan aku harus percaya bahwa dia kuat. Aku tetap akan menjaga gerbang luar dengan ketat, tapi di dalam sini... aku mau rumah ini menjadi rumah lagi, bukan benteng."

​Jennie menyandarkan kepalanya di bahu Kai. "Terima kasih, Oppa. Kamu sudah menjadi ayah yang luar biasa. Meski aku tahu kamu sangat ketakutan semalam itu, kamu tetap berdiri tegak untuk kami."

​"Kita semua luar biasa, Jen. Terutama kamu. Kamu adalah alasan Lisa bisa tersenyum lagi secepat ini."

​Mereka terdiam cukup lama, menikmati semilir angin malam. Tidak ada lagi ketegangan yang menyelimuti percakapan mereka.

Yang ada hanyalah rencana-rencana masa depan tentang liburan musim panas yang akan mereka habiskan di pantai, tentang ulang tahun Lisa yang akan datang, dan tentang bagaimana mereka akan terus menjaga api kebahagiaan ini tetap menyala.

***

Pagi harinya, sekeluarga akan melakukan sarapan. Namun Jennie dan lisa masih bersiap dengan lisa yang kini tengah dibantu pakai seragam oleh Jennie.

"Gamau di kuncir Mom" Tolak Lisa saat Jennie ingin menguncir rambutnya, baginya dikuncir itu seperti anak SD.

"Nanti gerah dek"

"Akh~ gamau~" rengek Lisa.

"Iya iya engga sayang" Pasrah Jennie, padahal dikuncir itu lucu menurutnya.

Dengan telaten ia kembali menyisir rambut panjang putrinya agar terlihat lebih rapih ketika digerai.

"Mom nanti bikin bekelnya mau dua, adek mau kasih Seulgi satu"

Jennie tersenyum mendengar nya. Anaknya benar-benar kembali sekarang.

"Iya nanti Mommy buatin dua, asal nanti Bekel adeknya harus habis?" Pasalnya Kemarin hari pertama sekolah Lisa tidak mau menghabiskan bekal yang dibuatnya.

"Iya, tapi bener dua ya?"

Jennie mengangguk setuju. "Oke dek"

"Nah udah selesai, cantik banget sih anak aku, chupp~" Gemas Jennie saat sudah selesai menyisir rambut putrinya.

"Nanti jangan main terlalu cape dulu ya dek, Mommy udah bilang ke pak gurunya nanti pas olahraga adek ikutnya sebentar aja"

Lisa yang mendengar perintah Mommynya mendadak lesu dengan bibir yang cemberut.

"Padahl adek mau ikutnya lama"

"Gapapa heum~ adek kan baru sembuh" Ucap Jennie memberi pengertian pada Lisa.

"Udah yuk turun kebawah sarapan" Ajak Jennie membawa sibungsu ke meja makan.

Sesampainya di meja makan sudah ada Rose dan Kai yang sudah menunggu mereka.

"Lama banget sayang" Ujar Kai yang sudah tidak sabar karna sedang buru-buru.

"Maaf tadi ada drama sedikit" Balas Jennie menjelaskan.

Kai mengangguk pelan kini semuanya sudah siap dan mulai menikmati sarapannya. Namun tidak untuk Jennie yang sedari tadi mondar mandir tengah menyiapkan bekal untuk kedua anaknya.

My Little LightCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang