◇Half socmed au, half writings au.
◇Slice of life.
Wonder how it feels to be Buki who have Hwang "Peutti" Yunseong as her pillar of emotion and her diary. They have always been so grateful to have each other to depend on in every ups and downs.
●●...
Jari kak Yunseong tiba-tiba mendarat di hidungku. Aku tertegun heran sambil menatapnya. Manik matanya yang serius tiba- tiba hadir kala tatapan kita semakin dalam.
"Kemarin aku bilang apa?"
"Eh.."
"Ga perlu pake kakak lagi. Anggap aja kita seangkatan,"
"Oh.. iya, maaf Yunseong,"
Tangannya menyeka rambutku pelan, bermaksud menenangkanku tanpa merusak tatanan rambut yang sudah kutata sejak pagi; demi terlihat rapi di depan Kak Yunseong.
"Hehe, maaf ya aku maksa. Tapi beneran maksa sih. Aku pengen kita gaada gap kakak- adik tingkat gitu,"
Aku menatapnya heran melihat dia mulai terkekeh. Secepat itu mimik wajahnya berubah. Aku hanya diam membatu dan lama- lama.. jantungku.. berdebar kencang.. Ini.. k-kenapa ya?
"Oh iya, aku tau kosmu dari Yeonhee. Tenang, aku bukan stalker,"
"Tapi serem deh tiba-tiba udah di sini,"
"Serem ya..? Eum, gini deh. Boleh pinjam tangan, ga?"
Yunseong menjulurkan tangannya seakan meminta tanganku hadir di telapak tangannya.
Aku berpikir panjang. Tak jarang Kak Yunseong meminta izin untuk bergandengan tangan tapi, apa harus sepagi ini..?
"Eumm.. boleh," tatapan kakuku mengiringi tanganku mendarat lembut di tangan hagat Kak Yunseong, namun..
Tanganku seketika ditarik olehnya dan membawa badanku langsung di sebelah kanan Yunseong sambil merangkulku.
Aku spontan membelalakkan mataku.
"Yuk, keburu terlambat,"
Astaga, Kak..
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.