●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●
"If there are no words 'I love you' again in this world, i might say it as 'I want to be with you'.
That's how i will say 'I love you' in another words," - Jeon Wonwoo
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●
Aneh rasanya ada seseorang yang memintanya bertemu di Taman Cheonsa ini, karena Buki selalu datang ke sini sendiri meski hanya untuk melamun atau menjernihkan pikirannya di waktu luangnya sebelum pulang kuliah. Buki melihat smartphonenya berkali-kali dengan cemas, berharap hari ini tidak berakhir dengan suasana buruk.
"Maaf ya, Kak.. aku gatau harus gimana," Buki berbisik pada dirinya sendiri sembari menatapi pohon di depannya yang berdansa ringan tertiup angin.
Kala Buki semakin cemas hingga menggigit bibir bawahnya, seseorang muncul di sebelahnya.
"Hai Buki," senyum Yunseong tak bisa dia sembunyikan begitu matanya telah menemukan sosok yang ingin dia temui hari ini.
"I-iya," jawab Buki pelan sambil menundukkan wajahnya, salah tingkah.
Yunseong menyesuaikan posisinya agar bisa berdiri di depan wajah Buki. Wajahnya sedikit Ia rendahkan agar matanya bisa sejajar dengan kedua manik Buki yang masih bersembunyi di bawah poninya. Kala mata Buki membalas wajah penasaran Yunseong, tangannya tak bisa diajak bekerja sama, hingga menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Kamu ga lagi sibuk, kan?"
"Engga," jawab Buki, lebih pelan dari sebelumnya, sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Jika tidak menggeleng, mungkin Yunseong tidak begitu mendengar apa jawaban Buki barusan. Kepala Buki akhirnya sedikit mengarahkan wajahnya ke sepatunya-lagi-,menunduk karena salah tingkah dengan keadaan ini.
"Jadi gimana, Buki?"
"Iya.. itu.. maksudnya apa?" Buki malah bertanya balik, dengan tangannya yang resah di depan perutnya.
"Oh, ya, maksudku, kamu lagi ga deket sama siapa-siapa kan?" kekeh Yunseong pelan, merasa geli dengan keadaan yang sebenarnya dia buat sendiri.
"Aku benar-benar merasa beruntung bisa kenal kamu. Dan sekarang, aku mau bersama Buki terus untuk waktu yang lama, boleh ga?"
"Yunseong,"
Buki menarik napasnya dalam sambil bergetar, dan membuangnya secara percuma. Buki beberapa kali ingin mengatakan sesuatu tapi berkali-kali juga dia gagal. Yunseong yang melihat keadaan itu, akhirnya mengambil suara.
"Buki cuma perlu jawab iya atau tidak kok, hehe,"
"Yunseong, terima kasih, tapi.."
Suaranya makin bergetar. Buki mengumpulkan segala tenaga di tubuhnya hanya untuk pertanyaan sederhana itu. Tanpa sepengetahuan Yunseong, mata Buki mulai berkaca-kaca selama dia berbicara.
"Buki bukan orang yang Yunseong ekspektasi bisa bikin Yunseong bahagia, atau bisa membuat hidup Yunseong berwarna. Buki bukan siapa-siapa untuk dijadikan seseorang yang bisa Yunseong andalkan. Tapi, Buki berterima kasih sama Yunseong, karena udah suka sama Buki. Buki... gatau harus balas perasaan Yunseong dengan cara apa.."
Yunseong sedikit melebarkan matanya kala menyadari Buki terlalu terbawa suasana hatinya. Matanya tidak bisa istirahat melirik kanan kiri memikirkan harus bagaimana dengan keadaan ini. Kepalanya menunduk sedikit memastikan keadaan Bukiyang hanya menunduk-belum juga menatapnya selama menuturkan kata-kata tadi.
"Eh..? Ma-maaf Buki, kalau mau nangis-"
"Gapapa, udah, kok, udah nangisnya," Buki segera mengelap segera tetes air mata yang mengalir lembut di pipi merahnya.
"Kalau gitu, perasaan Buki tentang aku gimana?"
.
.
.
Yunseong. Aku sangat bersyukur punya seseorang yang selalu menemaniku setiap hari. Waktu-waktu yang kita habiskan semenjak kita pertama bertemu sangat-sangat memberi warna hidupku yang hanya berwarna abu-abu ini. Aku hanya merasa tidak pantas untuk ada di sebuah hubungan serius dengan Yunseong, yang menurutku mendekati kata sempurna. Jika bisa terus bersamamu, aku pun sangat senang. Aku hanya tidak tahu bagaimana membalas semua kebaikanmu padaku selama ini...
.
.
.
"Buki.. senang karena bisa kenal Yunseong,"
"Okay. Jadi, boleh kan?"
"Boleh, tapi.."
"Yes!!" Yunseong mengepalkan tangannya di depan dada, sebagaimana seorang atlet bola yang baru saja melayangkan gol ke gawang lawan. Yunseong secara spontan merangkul Buki. Seandainya Buki tidak berkedip, kedua matanya bisa saja keluar dari tempatnya-matanya melotot begitu lebar hingga badannya membeku.
"Yu-yunseong.."
"Makasih, ya, Buki" Yunseong pelan-pelan melepas rangkulannya, lalu dalam waktu yang sama diliputi rasa bersalah kala tahu Buki berlinang air mata lagi selama pelukannya.
.
.
.
"Yunseong, Buki gatau harus apa.. Buki gatau cara balas kebaikan Yunseong gimana.. huhu,"
"Aku ga minta kamu balas kebaikan aku, aku cuma minta kita bisa bareng-bareng terus untuk waktu yang lama, kok,"
"Tapi.. Yunseong ga bakal betah sama Buki yang suka ngoceh dan bakal capek sama Buki kalau lagi cerita,"
"Emang aku pernah bilang aku capek kalau kamu chat atau cerita sama aku selama ini?"
"Engga sih,"
"Tuh, gapapa, kan? Gapapa, kok! Anggap aja aku diary kamu,"
"Ha..?"
"Gimana? Boleh, kan, aku jadi diary kamu?"
"Heung.."
"Eh, nangis lagi, sini aku peluk. Boleh, kan?"
Buki hanya mengangguk, masih menenggelamkan wajahnya di dalam kedua telapak tangannya. Bagaimanapun, hati Buki yang mulai memekarkan bunga mawarnya sedikit demi sedikit, akhirnya luluh dengan permintaan Yunseong.
"Aku bersyukur banget punya Kakak,"
"Eeett, kok kakak sih?"
"Yunseong! Huhuhu,"
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●
from now on, you will always be my diary.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIARY; You Are Me, I Am You
Fanfiction◇Half socmed au, half writings au. ◇Slice of life. Wonder how it feels to be Buki who have Hwang "Peutti" Yunseong as her pillar of emotion and her diary. They have always been so grateful to have each other to depend on in every ups and downs. ●●...
