◇Half socmed au, half writings au.
◇Slice of life.
Wonder how it feels to be Buki who have Hwang "Peutti" Yunseong as her pillar of emotion and her diary. They have always been so grateful to have each other to depend on in every ups and downs.
●●...
Aku tahu duduk di sini tidak lantas menghilangkan segala pikiran yang membuatku mual. Bualan-bualan tak bermakna dari orang aneh itu sama sekali tidak mengusikku. Belum ada ruang maaf untuknya detik ini. Bahkan jika sore ini ditutup oleh tenggelamnya matahari, tidak, kamu belum ingin aku maafkan.
Bukit kesayanganku ini, Bukit Cheonsa, yang hanya berjarak 100 meter dari kampus, selalu jadi saksi bisu segala keluh kesahku tentang hancurnya pandangan indahku tentang keluarga cemara. Aku benar-benar bersyukur dengan ayah bundaku yang selalu mendukungku. Bagaimanapun aku selalu merasa tidak enak dan mencurahkan rasa bersalahku pada mereka di sini.
T-tunggu... buki..? Iya.. itu jelas Buki. Dari puncak bukit mini ini, aku jelas melihat sosok yang sudah kukenal sejak acara seminar saat itu. Perawakan tubuhnya dengan poni imut di wajahnya. Itu pasti Buki. Tapi, badannya terlihat lesu. Entah karena perasaanku yang juga sedang sedih atau bagaimana, tapi dia terlihat sedang.. menangis?
Mengetahui hal ini juga, dadaku semakin nyeri. Aku ingin membersamai sedihnya. Apa bisa? Aku ingin jadi orang yang bisa membantunya..
Menurut kalian, ini kenapa, ya? Ketika aku melihatnya, aku selalu merasa sakit di dada. Rasanya semua darahku mengalir ke kaki, sehingga aku selalu membatu setiap matanya bertemu dengan mataku. Aku benar-benar tidak tahu ini apa. Sejak pertemuan kita di acara seminar itu, dia sebagai humas yang bertanggung jawab mengarahkanku, wajahnya yang penuh rasa juang dengan suasana pedih, ingin rasanya aku memeluknya.
Padahal itu hari pertama kita bertemu.
15 menit berlalu, dia sudah pergi dari taman cheonsa, tepat di bawah bukit ini, yang selalu jadi pemandangan menenangkan bagi pengunjungnya.
Aku ingin memastikan dia pulang dengan selamat. Begitu dia menjawab chatku, aku mengambil langkah untuk pulang juga ke rumah.
. . .
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*Buki's pov*
Kak Yunseong..
Kenapa setiap melihat chat kakak, aku rasanya ingin menangis? Bukan karena sedih, justru karena aku bahagia. Aku senang bisa kenal dengan kakak yang baik ini. Melihatnya menjadi narasumber di seminar waktu itu, sangat menyadarkanku bahwa masih ada orang yang tulus di dunia ini. Tapi di saat yang sama, aku hanya adik tingkat yang tidak ada apa-apanya dibanding Kak Yunseong yang jadi panutan banyak orang di kampus.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.