Farhanna menarik napas dalam-dalam, mencoba memantapkan hatinya, lalu naik ke jok belakang motor Alexiss.
Begitu Farhanna sudah duduk tegak, Alexiss menengok ke belakang dengan mata berbinar-binar cerah. Dia membetulkan posisi helmnya yang agak kebesaran sampai menutupi dahi, lalu tersenyum lebar banget.
"Hannan are you ready? Pegangan my jacket, ya! Kita berwussshh to school!" serunya semangat, lengkap dengan efek suara "wush" dari mulutnya sendiri.
Farhanna refleks mencengkeram ujung jaket Alexiss, bersiap-siap kalau motor ini bakal melesat.
Greeeeeng... suara gasnya dihentak penuh semangat. Tapi pas motornya jalan...
Sreeet... sreeet... sreeet...
Farhanna membuka matanya. Motornya emang jalan, tapi lambattt banget. Bahkan kedua kaki Alexiss masih turun ke aspal, diseret pelan-pelan buat menyeimbangkan badan, seolah-olah dia lagi naik sepeda roda tiga.
"Xis..." panggil Farhanna heran. "Ini kaki Lo kenapa gak dinaikin ke tatakan motor?"
"No, no, wait Hannan! Jangan dulu!" sahutnya dengan nada panik tapi mukanya polos banget, sementara matanya melotot fokus menatap aspal di depan. "Nanti kalau dinaikin, the motorcycle oleng terus kita jatuh gimana? My feet kan pelindung darurat!"
Jangankan menyalip truk, mereka bahkan baru saja disalip dengan sangat anggun oleh seorang ibu-ibu kompleks yang lagi sepedaan santai sambil bawa keranjang sayur. Ibu-ibu itu sempat menengok, lalu tersenyum geli melihat tingkah Alexiss.
"Dadah Ibuuu... good morning!" sapa Alexiss dengan nada ceria sambil melambaikan sebelah tangannya ke ibu pesepeda itu, membuat motornya sempat oleng sedikit ke kiri.
"Alexiss! Jangan lepas tangan, ih! Fokus nyetir!" pekik Farhanna panik, spontan mencengkeram pinggang Alexiss lebih erat.
Merasakan pinggangnya dipeluk, Alexiss malah kesenangan. Pipinya langsung merona merah, lalu dia tertawa kecil yang kedengaran imut. "Hehe, Hannan peluk Alexiss. Look, Alexiss hebat right? Udah bisa bawa motor!" ujarnya bangga, padahal jarum spidometer motornya bahkan gak bergerak dari angka 15 km/jam.
Asli, Alexiss naik motornya hati-hati dan penuh perasaan banget. Setiap kali ada polisi tidur atau kerikil agak gede, dia bakal ngerem sampai hampir berhenti total.
"Be careful, Hannan... ada bumpy road," bisiknya super serius seolah-olah lagi melewati jembatan gantung yang mau putus.
Di tengah kepasrahan Farhanna menikmati angin sepoi-sepoi yang saking lambatnya sampai gak bisa bikin rambutnya goyang, matanya gak sengaja melirik ke arah kaca spion motor.
Di sana, samar-samar terlihat siluet cowok jangkung berwajah tegas yang lagi berjalan kaki dengan santai. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abu sekolahnya, tas ranselnya tersampir cuek di satu bahu.
Farhanna mengerutkan kening. Bentar, itu kayak...
"Muktar?" gumam Farhanna pelan.
Iya, itu Reyvand! yang hobinya jalan kaki kalau berangkat sekolah dan gak perduli mau telat mau enggak.
Sret... sret... sret... suara langkah kaki Reynard ritmenya konstan banget di samping trotoar.
Perlahan tapi pasti, bayangan Reyvand di spion bergeser ke samping motor mereka. Cowok itu berjalan melewati jok belakang tempat Farhanna duduk dengan langkah kaki santai, tanpa buru-buru sama sekali.
Reyvand sempat menengok sebentar ke arah Farhanna dengan tatapan datarnya yang khas, seolah berkata, 'Lama banget, Bos.'
Farhanna yang sadar mereka baru saja dibalap oleh orang yang jalan kaki langsung menutup mukanya dengan kedua tangan. "Bisa-bisa telat nih gue." Gumamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Menikahi 5 pria?
Romancemenikah dengan 5 pria sekaligus? ah.. bullshit. terserah apa kata kalian, tapi.. inilah takdir farhanna.. menikah dengan 5 suami sekaligus yang merupakan.. cerita tanggal : 24/06/2024
