Liburan kenaikan kelas akhirnya tiba.
Sudah empat hari Shenan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Bukan karena tidak punya kegiatan, tetapi karena ia memang sengaja menghindari siapa pun yang berusaha mengajaknya keluar.
Terutama Key.
Ponselnya hampir selalu dalam mode senyap. Pesan dari Key hanya dibaca sekilas, lalu dibiarkan tanpa balasan.
Key: Kamu di rumah?
Beberapa menit kemudian.
Key: Shen?
Lalu satu lagi.
Key: Aku pengen ketemu.
Shenan menatap layar ponselnya lama. Dadanya terasa sesak.
Ia tahu Key khawatir.
Namun, untuk sekarang, Shenan hanya ingin sendirian.
Ia baru saja meletakkan ponselnya ketika terdengar suara ketukan keras dari pintu depan.
"Shenaaaan!"
Shenan mengerutkan kening.
"Jangan-jangan..."
Belum sempat ia berdiri, pintu kamarnya terbuka.
Putri muncul bersama Jeje.
"Bangun!"
"Buset!!", ujar Shenan terkejut.
"Ayo cabut!"
"Apaan sih gue belum mandiii!"
"Yaudah cepet mandi sono!"
Shenan menatap keduanya dengan wajah malas.
"Ngapain?"
"Keluar."
"Ke mana?"
"Pokoknya keluar."
"Gue nggak mau."
Putri langsung menjatuhkan diri ke kasur Shenan.
"Baru juga empat hari libur!"
"Nah, makanya."
"Empat hari itu lama!"
"Hadeh", Shenan sudah pasrah berdebat dengan temannya.
Jeje ikut merebahkan tubuhnya di samping Putri. Kamar Shenan memang sederhana. Hanya ada kasur, lemari kecil, meja belajar, dan beberapa poster yang ditempel seadanya di dinding.
"Kamu tuh aneh," kata Jeje. "Orang-orang senang liburan, kamu malah mengurung diri."
"Mumpung libur mah males-malesan."
Putri menatapnya beberapa detik.
"Tapi gak males mandi juga."
"Udah gih sana mandi?", tambah Jeje.
Shenan bengong.
Akhirnya, setelah dibujuk hampir setengah jam, Shenan menyerah.
"Lima belas menit."
"Lima menit!" sahut Putri.
"Lima belas."
"Sepuluh."
"Deal."
Mereka bertiga kemudian berdesakan di kamar Shenan sambil menunggu gadis itu mandi dan berganti pakaian.
Shenan sama sekali tidak menyangka ke mana mereka akan membawanya.
Sampai mobil berhenti.
Shenan memandang rumah di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENAN
Romance"Iya, saya temenan sama siapa saja, mau dia nakal, baik, bodoh, pintar, kaya, miskin, gak akan ngerubah pandangan saya terhadap mereka sebagai manusia" Shenan, murid pindahan baru menemukan kehidupan barunya di ibu kota setelah kepergian kedua orang...
