26. Kabar Key

2 0 0
                                        

Dua hari setelah pertengkaran besar yang terjadi di rumah Keytaro, keadaan justru menjadi semakin membuat Shenan gelisah.

Key tidak masuk sekolah.

Awalnya Shenan mengira Key hanya sedang sakit atau sengaja mengambil waktu untuk menenangkan diri. Namun ketika bel pulang berbunyi dan bangku Key tetap kosong sepanjang hari, rasa tidak nyaman mulai tumbuh di dalam hatinya.

Malam harinya ia memberanikan diri mengirim pesan.

*"Kamu baik-baik saja?"*

Pesan itu terkirim.

Dibaca pun tidak.

Shenan menunggu sampai larut malam sambil sesekali membuka layar ponsel.

Tidak ada balasan.

Keesokan harinya Key tetap tidak masuk.

Saat jam istirahat, Shenan menghampiri Fadlan dan Rama yang sedang duduk di kantin.

"Kalian tahu Key ke mana?"

Fadlan mengangkat bahu.

"Nggak."

"Sumpah?" tanya Shenan lagi.

"Serius," sahut Rama. "Biasanya kalau dia ngilang pasti masih nongol di grup. Ini grup aja nggak dibuka."

Perasaan Shenan semakin tidak tenang.

Bahkan Fadlan yang biasanya santai mulai terlihat khawatir.

"Mungkin dia lagi butuh waktu sendiri."

Shenan mengangguk pelan meski hatinya tidak benar-benar tenang.

---

Malamnya, ketika Shenan sedang membantu Bulik Lidya membereskan meja makan, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu.

Bulik Lidya membukanya.

Ternyata Om Ariya.

Pria itu terlihat lelah. Meski tetap rapi seperti biasa, ada sorot letih yang jelas terlihat di wajahnya.

"Maaf datang malam-malam."

"Tidak apa-apa, Mas. Silakan masuk."

Om Ariya duduk di ruang tamu bersama Bulik Lidya dan Shenan.

Untuk beberapa saat suasana terasa canggung.

Lalu Om Ariya menghela napas panjang.

"Saya datang untuk minta maaf."

Bulik Lidya terdiam.

"Atas semua yang dilakukan Sofiya."

Shenan menunduk.

Om Ariya tampak benar-benar menyesal.

"Saya baru tahu dia sampai menemui Shenan di sekolah."

"Tidak apa-apa, Om," jawab Shenan pelan.

"Tidak. Itu tidak benar."

Suara Om Ariya terdengar tegas.

Ia memandang Shenan dengan penuh penyesalan.

"Kamu tidak seharusnya menerima perlakuan seperti itu."

Pria itu kemudian menatap Bulik Lidya.

"Saya juga sudah mengurus semuanya."

"Maksudnya?"

"Sofiya tidak punya kuasa apa pun terhadap sekolah."

Shenan dan Bulik Lidya langsung memperhatikan.

"Saya pemilik saham terbesar yayasan. Semua keputusan ada di tangan saya."

SHENANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang