Tinggal beberapa hari Shenan akan menghadapi lomba cerdas cermat antar SMA, di Sekolah ia sibuk melakukan bimbingan dengan kedua partnernya. Ia hanya punya sedikit waktu bisa bersama teman-temannya Jeje dan Putri. Dua jam terakhir Sekolah sampai murid di Sekolah udah lenyap.
Ia jenuh sekali, sekaligus cemas dan gugup.
Pukul 16.30, bimbingan di ruang Osis sudah selesai, Shenan merasa lega, ingin cepat-cepat pulang.
Ia berjalan menelusuri lorong, mendahului dua temannya di belakang, Fatimah dan Adrian. Sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di Sekolah.
"Shenan", panggil sesorang dari belakang Shenan, ia menengok kebelakang, dilihatnya sekarang Adrian berlari menyusulnya.
"Keburu banget", Tanya Adrian.
"Em.. pengen cepet pulang aja", jawab Shenan datar. Seolah menghindari pandangan mata Adrian.
Shenan pun heran dengan dirinya sendiri, beberapa bulan lalu ia sempat mengagumi Adrian, Tapi entah kenapa sekarang kegaguman itu memudar. Ia kadang berfikir itu hanya sekedar kegaguman, bukan rasa sayang. Lagipula Shenan belum terlalu paham tentang perasaannya. Pengalaman percintaannya masih nol.
Lagipula Shenan merasa tahu diri, Adrian terlalu bintang untuk dirinya yang hanya rakyat biasa.
Adrian menemani Shenan menunggu angkot di depan Sekolah. Lama sekali menunggu angkot yang lewat, Shenan sudah tidak sabar untuk segera pulang.
"Memangnya kak Adrian juga mau naik angkot?", tanya Shenan bingung. Kenapa Adrian tidak pulang dari tadi justru ikut duduk di halte sambil bercerita banyak hal yang bahkan Shenan tidak tertarik lagi?
Adrian menggangguk, agak ragu.
"Memang rumah kita searah kak? Angkot nomor berapa?".
Adrian menggelengkan kepala, bingung ingin menjawab apa. Seolah pasrah tak ingin mencari alasan.
"Ah, pasti gak pernah naik angkot ya..", goda Shenan. Tapi Shenan yakin itu benar.
Adrian tersenyum, "Kok tau sih?".
Belum sempat menjawab, seseorang mengendarai motor sport hitam berhenti di depan mereka berdua, yaitu Keytaro. Ia memakai jaket jeans dan celana pendek, serta sepatu converse-nya.
Tanpa melepas helmnya, hanya membuka kaca helm, Keytaro langsung turun dari motor dan menghampiri mereka berdua. Terlihat sorot mata Key di sela-sela helm itu sangat marah.
"Shenan, ayok", sambil menunjuk motor sportnya.
Shenan kebingungan, sambil menatap Adrian dan Keytaro secara bergantian.
Keytaro pelan-pelan mencoba menarik tangan Shenan, sedikit memaksa Shenan untuk segera berdiri.
"Eh.. Kak Maaf ya", Bahkan Shenan belum selesai menyelesaikan kalimatnya, Keytaro sudah melangkah menjauh sembari memegang tangan Shenan. Tiba-tiba Adrian menangkap tangan kiri Shenan.
"Stop.. maksud kamu apa Key, gak sopan narik-narik tangan orang", ujar Adrian dengan nada tinggi. Membuat Key menghentikan langkahnya dan spontan membalikkan badan, melangkah mendekati Adrian dengan tatapan yang menakutkan.
Shenan dengan sigap, langsung menghalangi dengan melompat di antara dua laki-laki tersebut, sebelum terjadi pertengkaran. Ia dorong badan Keytaro menjauh dari Adrian, ketika Key sudah berbalik badan, Shenan mengangkat telapak tangannya memberi kode kepada Adrian agar berhenti di tempat.
Ia akhirnya segera membonceng motor Key, tanpa sepatah katapun. Key lalu mengendarai motor sportnya bersama Shenan, meninggalkan Adrian sendiri di Halte.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENAN
Romansa"Iya, saya temenan sama siapa saja, mau dia nakal, baik, bodoh, pintar, kaya, miskin, gak akan ngerubah pandangan saya terhadap mereka sebagai manusia" Shenan, murid pindahan baru menemukan kehidupan barunya di ibu kota setelah kepergian kedua orang...
