23. Tante Sofie

2 0 0
                                        

Jam pelajaran kelima dan keenam kosong karena guru yang seharusnya mengajar mendadak menghadiri rapat. Suasana kelas X.3 langsung berubah riuh. Beberapa siswa berpindah tempat duduk, sebagian bermain game, sementara yang lain sibuk mengobrol. Shenan yang sejak pagi lebih banyak diam hanya duduk sambil memandangi halaman buku yang bahkan tidak ia baca.
"Shen, bisa tolong nggak?" Putri menghampiri mejanya sambil membawa setumpuk lembar tugas.
Shenan mengangkat kepala. "Apa?"
"Tolong anter laporan praktikum ini ke ruang guru, ya? Harus dikumpulin sekarang."
"Lah, kenapa nggak lo aja?"
Putri menghela napas. "Gue sama Jeje masih belum selesai ngerjain tugas Biologi. Ketua kelas juga nggak ada lagi. Bolos terus dia sekarang."
Jeje yang berdiri di samping Putri ikut mengangguk. "Tolong, Shen. Cuma taruh di meja Bu Ratna."
Shenan sebenarnya malas keluar kelas, tetapi ia tetap menerima setumpuk laporan siswa yang diberikan Putri.
"Ya udah deh."
"Makasih!" seru Putri lega.
Shenan berdiri lalu berjalan keluar kelas.
Dari bangku belakang, Keytaro memperhatikan punggung gadis itu menjauh. Ia sempat berdiri, berniat menyusul. Sejak pagi ia belum sempat berbicara dengan Key. Baru saja Key melangkah satu langkah, sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya.
"Key! Jangan pergi dulu!" seru Fadlan panik.
"Apa lagi dah?"
"Gue hampir menang coeg! Tolong lihat strategi gue, ini lawan gue dari Thailand kuat banget."
Key mengerutkan dahi.
"Masa sih?"
"Serius! Sumpah tinggal satu putaran!"
Fadlan menyodorkan ponselnya dengan ekspresi memelas.
Key melirik ke arah pintu kelas. Shenan sudah menghilang dari pandangan.
"Yaudah, sini."
Ia kembali duduk, tanpa tahu bahwa keputusan kecil itu akan membuat Shenan menghadapi sesuatu sendirian.

****

Di sisi lain gedung, Shenan berjalan menuju ruang guru. Sebelum sampai ke sana, ia melewati kantor kepala sekolah. Langkahnya melambat ketika melihat pintu kantor terbuka.
Kepala sekolah sedang berbincang dengan seorang wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Wanita itu sangat cantik.
Tubuhnya tinggi semampai, rambut hitam panjang tertata rapi, pakaian yang dikenakannya terlihat mahal. Wajahnya bahkan tampak seperti model yang sering muncul di majalah.
Saat mata mereka bertemu, wanita itu memandang Shenan dari atas hingga bawah.
Tatapan yang dingin.
Tatapan yang membuat Shenan refleks menunduk.
Ia segera melanjutkan langkah menuju ruang guru. Setelah meletakkan tumpukan laporan di meja Bu Ratna, ia berniat langsung kembali ke kelas.
Namun baru beberapa langkah keluar dari ruang guru, seseorang berdiri menghalangi jalannya.
Wanita tadi.
Kini ia sendirian.
Tidak ada kepala sekolah di dekatnya.
Shenan berhenti.
Wanita itu menatapnya dengan senyum tipis yang tidak terasa ramah.
"Jadi kamu Shenan."
Suara wanita itu pelan, tetapi terdengar angkuh.
Shenan bingung. "Iya..."
Wanita itu menyilangkan tangan.
"Aku heran kenapa anak sepertimu bisa sekolah di sini."
Shenan terdiam.
"Kamu tahu berapa biaya sekolah ini?"
Tidak ada jawaban.
"Anak-anak di sini berasal dari keluarga yang setara. Sedangkan kamu..." wanita itu melirik seragam Shenan yang sudah sedikit kusam. "Kamu bahkan terlihat tidak pantas berada di lingkungan ini."
Jantung Shenan mulai berdebar.
"Kamu miskin."
Kalimat itu diucapkan begitu saja.
Tanpa ragu.
Tanpa belas kasihan.
"Aku juga dengar tentang keluargamu."
Shenan mengepalkan tangan.
"Tantemu itu, kan? Yang katanya suka mencari laki-laki kaya untuk ditumpangi hidup."
Napas Shenan tercekat.
"Itu bukan—"
"Tidak perlu menjelaskan."
Wanita itu memotong.
"Lalu sekarang kamu dekat dengan Keytaro."
Mata Shenan membesar.
"Gak usah mimpi."
Nada suara wanita itu semakin menusuk.
"Orang seperti kamu dan orang seperti Keytaro hidup di dunia yang berbeda."
Shenan menunduk.
Anehnya, ia tidak bisa membantah.
Karena sebagian dari dirinya merasa wanita itu benar.
Ia memang miskin.
Ia memang sering merasa tidak cocok berada di sekolah ini.
Dan Keytaro...
Keytaro memang terlalu jauh untuk dijangkau.
"Jauhi Key."
Setelah mengatakan itu, wanita tersebut pergi begitu saja.
Meninggalkan Shenan yang berdiri mematung.
Beberapa detik kemudian, Shenan berbalik dan berjalan cepat. Semakin cepat. Hingga akhirnya berubah menjadi lari kecil menuju toilet perempuan.
Begitu pintu toilet tertutup, ia mengunci salah satu bilik dan menutup mulutnya sendiri.
Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
Tidak ada suara tangis keras.
Hanya sesenggukan kecil yang berusaha disembunyikan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Shenan merasa begitu rendah.
Begitu tidak berharga.
****

SHENANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang