31. Kesedihan Key

2 0 0
                                        

Pagi itu, rumah Bulik Lidya masih diselimuti suasana tenang ketika suara ketukan terdengar dari pintu depan.

Tok. Tok. Tok.

Lidya yang sedang bersih-bersih di dapur tidak mengira akan ada tamu sepagi itu.

Begitu pintu dibuka, perempuan itu terdiam.

"Keytaro?"

Key berdiri di depan pintu dengan napas sedikit terengah. Rambutnya masih berantakan, seolah ia datang terburu-buru tanpa sempat memikirkan penampilannya.

"Bu Lidya... Shenan ada?"

Lidya mengerutkan kening.

"Dia sama Gavin. Keluar sebentar. Joging, katanya sekalian cari bubur ayam."

Key menunduk sebentar. Ada rasa kecewa yang jelas terlihat di wajahnya, tetapi ia segera mengangkat kepala.

"Kalau begitu... saya boleh menunggu?"

Lidya mempersilahkannya masuk.

Key duduk di ruang tamu. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas lutut. Beberapa kali ia melirik jam dinding.

Lidya memperhatikannya dari dapur.

"Kamu datang ke sini sebenarnya mau apa, Key?"

Key menghela napas panjang.

"Saya mau bicara soal Shenan."

Lidya terdiam.

"Saya sudah dengar semuanya, Bu."

"Kalau kamu datang untuk membujuk saya supaya Shenan tetap sekolah di sana, percuma."

"Saya belum selesai bicara."

Nada suara Key masih sopan, tetapi terdengar tegas.

Lidya akhirnya duduk di hadapannya.

"Keytaro, Ibu sudah mengambil keputusan."

"Saya mohon."

Lidya menggeleng.

"Tidak."

"Bu, saya bisa menjamin beasiswanya."

"Key—"

"Tidak akan pernah saya cabut."

Lidya menatapnya.

"Saya serius. Apa pun yang terjadi nanti, Shenan tetap punya hak untuk mendapatkan beasiswa itu sampai dia selesai sekolah. Saya bisa bicara dengan pihak yayasan. Saya akan pastikan semuanya."

"Masalahnya bukan cuma beasiswa."

Key terdiam.

"Shenan sudah terlalu banyak menderita," lanjut Lidya. "Ibu tidak mau dia harus menghadapi masalah baru setiap hari hanya karena sekolah itu."

"Saya bisa melindungi dia."

"Tidak semuanya bisa kamu lindungi."

Kalimat itu membuat Key membisu.

Lidya menatapnya dengan lembut.

"Kamu mungkin punya niat baik. Ibu tahu itu. Tapi kamu juga harus mengerti posisi Shenan. Dia bukan cuma butuh orang yang membelanya. Dia butuh tempat di mana dia bisa hidup dengan tenang."

Key menelan ludah.

"Saya tidak mau dia pergi, Bu."

"Saya tahu."

"Kalau dia pindah, saya bahkan tidak tahu kapan bisa melihatnya lagi."

"Itu bukan berarti kalian tidak akan pernah bertemu."

SHENANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang