Esok paginya suasana di sekolah terasa biasa saja bagi kebanyakan siswa, tetapi tidak bagi Shenan. Sejak pagi ia tampak murung dan lemas. Wajahnya yang biasanya cerah kini terlihat pucat, bahkan lingkaran samar di bawah matanya membuatnya tampak seperti tidak tidur semalaman. Saat pelajaran berlangsung, ia hanya menatap kosong ke arah papan tulis tanpa benar-benar memperhatikan apa yang dijelaskan guru. Jeje dan Putri yang duduk di sebelahnya kanan dan kirinya, berkali-kali saling bertukar pandang. Mereka tahu ada sesuatu yang tidak beres.
"Shen, lo sakit?" tanya Putri saat jam pelajaran berakhir.
Shenan mengangkat kepala perlahan. Ia memaksakan senyum kecil yang justru terlihat menyedihkan.
"Pucet banget tau ga!" tambah Jeje khawatir. "Ada masalah?"
Shenan menggeleng pelan. "Nanti aku cerita."
Jawaban itu membuat Jeje dan Putri tidak bertanya lebih jauh. Mereka mengenal Shenan cukup baik untuk tahu bahwa gadis itu hanya akan berbicara jika sudah siap. Namun tetap saja, kekhawatiran tidak bisa hilang begitu saja dari wajah mereka.
Saat bel istirahat berbunyi, siswa lain berhamburan keluar kelas menuju kantin atau lapangan. Shenan justru berjalan sendiri menyusuri koridor menuju kamar mandi. Langkahnya lambat, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain. Pandangannya kosong dan sesekali ia menghela napas panjang. Berbagai hal berputar di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak.
Ketika ia hampir sampai di depan kamar mandi, seseorang tiba-tiba memanggilnya dari belakang.
"Shenan."
Suara itu membuat tubuhnya menegang.
Ia menoleh cepat dan seketika matanya membesar. Jantungnya berdegup kencang hingga rasanya hampir meloncat keluar dari dada.
"Key..." bisiknya terkejut.
Reaksi Shenan membuat Keytaro mengernyit. "Hei, kenapa? kayak habis lihat hantu aja."
Shenan menundukkan pandangan. Ia menggenggam ujung lengan seragamnya erat-erat.
"Aku..." suaranya terdengar lirih. "Aku cuma kaget."
Keytaro menatapnya beberapa detik. Wajah pucat itu tidak bisa membohonginya. Ada sesuatu yang sedang dipendam Shenan.
"Ada apa sebenarnya?" tanyanya lembut.
Shenan menggigit bibir bawahnya. Ia ingin bercerita, tetapi kata-kata terasa terlalu berat untuk diucapkan sekarang.
"Nanti aku cerita," katanya akhirnya. "Tapi sekarang aku butuh waktu."
Keytaro menghela napas panjang. Meski jelas tidak puas dengan jawaban itu, ia tahu memaksa Shenan hanya akan membuat gadis itu semakin tertekan.
"Oke," ujarnya pelan. "Aku kasih kamu waktu."
Shenan mengangguk kecil.
Keytaro mundur selangkah, bersiap pergi. Namun sebelum berbalik, ia kembali menatap Shenan dengan sorot mata yang penuh kekhawatiran.
"Tapi kamu harus janji."
Shenan mengangkat kepala.
"Janji apa?"
"Janji kalau kamu bakal baik-baik aja." Suara Keytaro terdengar tegas meski lembut. "Makan yang benar, jangan ngelupain diri sendiri, dan jangan terlalu stres."
Shenan terdiam.
"Aku serius, Shen."
Ada kehangatan yang perlahan menyusup ke dalam dadanya, meski pikirannya masih kacau.
"Aku usahain," jawabnya pelan.
"Bukan usahain. Janji."
Untuk pertama kalinya hari itu, senyum tipis muncul di wajah Shenan. "Iya, aku janji."
Barulah Keytaro terlihat sedikit lega. Ia mengacak rambutnya sendiri sebelum berbalik pergi.
"Bagus."
Beberapa langkah kemudian, ia menoleh lagi ke arah Shenan.
"aku sayang sama kamu Shen.", ujar Key pelan, tatapannya dalam.
Shena hanya terpaku menatap Key. Semakin berat ia membuat keputusan untuk melepas Key.
****
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi ketika Keytaro membereskan buku-bukunya dengan tergesa. Sejak percakapan singkatnya dengan Shenan di depan kamar mandi tadi siang, perasaannya tidak tenang. Wajah pucat gadis itu terus terbayang di kepalanya. Cara Shenan menatapnya seperti orang yang sedang memikul beban besar membuat Key semakin khawatir.
Biasanya, setelah pulang sekolah, mereka akan berjalan bersama menuju parkiran atau setidaknya berpamitan. Namun hari itu, begitu Key keluar dari kelas, Shenan sudah menghilang.
"Jeje?" panggilnya saat melihat kelas sebelah.
Tidak ada.
"Putri?"
Juga tidak ada.
Bahkan Fadlan yang biasanya masih berkeliaran di koridor pun lenyap entah ke mana.
Key menghela napas panjang. Rasanya seperti semua orang sedang bersekongkol menyembunyikan sesuatu darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENAN
Storie d'Amore"Iya, saya temenan sama siapa saja, mau dia nakal, baik, bodoh, pintar, kaya, miskin, gak akan ngerubah pandangan saya terhadap mereka sebagai manusia" Shenan, murid pindahan baru menemukan kehidupan barunya di ibu kota setelah kepergian kedua orang...
