22. Bingung

4 0 0
                                        

Malam itu udara terasa sejuk setelah hujan ringan yang turun sejak magrib. Seperti biasa, dua kali minggu Keytaro datang ke rumah Shenan untuk bimbingan belajar. Awalnya Shenan yang selalu pergi ke rumah Key setiap dua kali seminggu. Alasannya sederhana, jalanan malam tidak selalu aman untuk remaja seusia mereka. Demi perempuan kesayangannya ia rela mengalah.

Di ruang tamu sederhana yang sekaligus dijadikan tempat belajar, buku-buku matematika dan fisika berserakan di atas meja kayu. Shenan sedang menjelaskan sebuah rumus sambil menunjuk catatan miliknya yang penuh tulisan rapi. Key duduk di seberangnya dengan wajah serius, meski sesekali matanya justru memperhatikan wajah Shenan daripada buku yang sedang dibahas.

"Kalau kamu terus lihat aku begitu, sampai besok juga nggak bakal paham," sindir Shenan sambil menahan senyum.

Key tertawa pelan. "Aku lagi fokus kok."

"Fokus apanya? Dari tadi soal nomor lima aja belum selesai."

"Karena gurunya terlalu cantik."

Shenan langsung melempar penghapus kecil ke arah Key. Penghapus itu mengenai bahunya dan membuat mereka berdua tertawa. Suasana malam itu terasa hangat dan menyenangkan. Mereka mengobrol tentang sekolah, teman-teman, hingga rencana liburan panjang yang sebentar lagi tiba. Sesekali Key sengaja membuat lelucon receh hanya untuk melihat Shenan tertawa.

Namun suasana itu berubah ketika suara pintu depan terbuka.

Bulik Lidya masuk tanpa suara. Langkahnya cepat dan wajahnya tampak tegang. Biasanya wanita itu selalu menyapa mereka terlebih dahulu, tetapi malam ini tidak. Ia hanya meletakkan tasnya di atas kursi lalu berjalan menuju dapur.

"Eh, Bu Lidya baru pulang?" sapa Key ramah. "Dari mana?"

"Urusan."

Jawabannya singkat. Tidak seperti biasanya selalu ramah dengan Key.

Bahkan Bulik Lidya tidak menoleh saat menjawab. Nada suaranya datar dan dingin.

Key melirik Shenan meminta penjelasan. Shenan sendiri terlihat sama bingungnya. Ia hanya mengangkat kedua bahu kecilnya seolah berkata bahwa ia juga tidak tahu apa yang terjadi.

Mereka kembali belajar, tetapi suasananya tidak lagi sama. Sesekali Shenan mencuri pandang ke arah dapur, sementara Key tampak berhati-hati setiap kali berbicara. Sampai akhirnya jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam dan Key memutuskan untuk pulang.

"Aku pulang dulu yah."

Shenan mengangguk lalu mengantar Key sampai ke teras. Di depan pintu, Key masih menyempatkan diri menghampiri Bulik Lidya yang sedang duduk di ruang keluarga.

"Saya pulang dulu, Bu."

Bulik Lidya mengangkat wajahnya. Meski ekspresinya masih dingin, ia tetap menyambut uluran tangan Key.

"Hati-hati di jalan."

"Iya, Bu."

Shenan mengantarkan Keytaro sampai depan, setelah selesai memasang jaket dan helmnya, Key mendoyongkan tubuhnya ke arah Shenan dan membisikkan sesuatu kepada Shenan.

"Dadah sayang, pulang dulu yah".

Shenan yang menyadarinya langsung terbelalak, memukul pelan lengan Key. Key tertawa geli sambil menyambar motor sportnya. Shenan meletakkan telunjuknya ke bibirnya, agar Keytaro  tidak terlalu berisik.

Lumayan agak lama Keytaro duduk di motornya,  sambil memandang wajah Shenan khas orang kasmaran. Tanpa sepatah katapun.
"Pulang gak!", Shenan memukul pelan lengan Keytaro.
Akhirnya Keytaro dengan berat hati meninggalkan Shenan, seolah Keytaro tidak ingin pergi dari sana.

SHENANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang