19. Jadian

7 0 0
                                        

Sore itu langit mulai berubah jingga ketika Shenan akhirnya selesai membersihkan diri di kamar mandi rumah Keytaro. Air hangat yang mengguyur tubuhnya memang berhasil menghilangkan sisa tepung dan telur yang menempel di kulit serta rambutnya, tetapi tidak dengan rasa malu dan sakit hati yang masih tertinggal di dalam dada.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin beberapa saat. Matanya masih sembap karena terlalu banyak menangis.
Perlahan ia menghela napas.

Di luar kamar mandi, Key sudah menyiapkan pakaian ganti untuknya. Karena tidak ada pakaian perempuan di rumah itu, Shenan terpaksa mengenakan kaus hitam milik Key yang ukurannya jauh lebih besar. Lengan kaus itu bahkan hampir menutupi tangannya. Dipadukan dengan celana training yang juga dipinjamkan oleh Key, penampilannya terlihat sedikit lucu, meski tidak ada satu pun yang sedang ingin tertawa hari itu.

Saat Shenan keluar dari kamar, ia mendapati Key, Fadlan, Putri, dan Jeje sudah berkumpul di ruang keluarga.

Rumah Key cukup besar, tetapi suasananya terasa hangat. Aroma teh hangat memenuhi ruangan.

"Shen!" seru Putri begitu melihatnya.

Gadis itu langsung berdiri dan memeluk Shenan erat.

"Gue kaget banget pas Fadlan telepon."

Jeje yang duduk di sampingnya juga terlihat cemas.

"Lo nggak apa-apa?"

Shenan mengangguk pelan.

"Gue baik-baik aja."

Meskipun semua orang tahu itu tidak sepenuhnya benar.

Putri melepaskan pelukannya lalu memperhatikan wajah Shenan.

"Shinta dan Bella keterlaluan."

"Banget," sahut Jeje kesal.

Di seberang mereka, Key duduk dengan kedua tangan terlipat di dada. Sejak tadi wajahnya masih terlihat dingin. Kemarahan yang dilihat Shenan di sekolah tampaknya belum benar-benar hilang.

Fadlan yang sedang memegang gelas teh menghela napas panjang.

"Yang bikin gue penasaran itu satu."

Semua menoleh kepadanya.

"Siapa yang nyebarin foto itu pertama kali?"

Ruangan mendadak hening.

Pertanyaan itu memang terus berputar di kepala mereka sejak tadi.

Jeje mengangguk.

"Gue juga mikir begitu."

"Foto itu diambil pas lomba, kan?" tanya Putri.

Shenan mengangguk.

"Iya."

"Berarti yang ada di lokasi waktu itu nggak banyak."

"Dan pasti sengaja ngambil fotonya," tambah Fadlan.

Key yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

"Kita cari tahu."

Nada suaranya tenang.

Terlalu tenang.

Namun justru itu yang membuat Shenan langsung menoleh.

"Jangan."

Semua mata tertuju kepadanya.

"Apa?" tanya Key.

"Aku bilang jangan."

Shenan menggenggam ujung kaus yang dikenakannya.

"Gue nggak mau kalian ikut campur lebih jauh."

SHENANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang