29. Akun Hater

1 0 0
                                        

Shenan berdiri di depan pintu bersama Keytaro. Sejak dipanggil dari lapangan basket, kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia tidak tahu apa kesalahannya kali ini. Yang membuatnya semakin gelisah, Keytaro ikut datang bersamanya meskipun Shenan sudah berkali-kali mengatakan bahwa ia bisa menghadapinya sendiri.

Begitu pintu terbuka, langkah Shenan langsung terhenti.

Di dalam ruangan itu sudah ada Bulik Lidya.
Tantenya duduk di salah satu kursi di depan meja kepala sekolah. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan hijabnya tampak berantakan. Yang paling membuat Shenan terkejut adalah air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Bulik?"
Lidya segera menundukkan wajah.
Shenan menatap Pak Burhan, kepala sekolah SMA Bina Bangsa, dengan bingung.
"Ada apa, Pak?"
Pak Burhan menghela napas panjang sebelum mempersilakan mereka duduk.
"Shenan, Bapak memanggil kamu bukan karena kamu melakukan pelanggaran."
Shenan sedikit mengernyit.
"Lalu kenapa, Pak?"
Pak Burhan memandang Keytaro sebentar sebelum kembali menatap Shenan.
"Pagi tadi, sekolah menerima sebuah email dari pengirim anonim."
Jantung Shenan mulai berdegup lebih cepat.
"Email?"
Pak Burhan mengangguk. Ia mengambil sebuah lembar kertas dari atas meja.
"Pengirim itu mengirimkan tautan akun Instagram. Di akun tersebut ada beberapa foto."
Shenan menelan ludah.
"Foto apa, Pak?"
Pak Burhan tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
"Foto Bulik Lidya bersama seorang laki-laki bernama Arya."
Wajah Shenan langsung berubah.
"Om Arya?"
Bulik Lidya kembali menangis.
Shenan menatap tantenya. Ia benar-benar tidak mengerti.
Pak Burhan melanjutkan, "Foto itu memperlihatkan kalian sedang makan malam bersama. Ada kamu juga di sana."
"Ya," jawab Shenan cepat. "Memang ada saya."
"Masalahnya," Pak Burhan menarik napas, "akun itu memberikan narasi bahwa Bulik Lidya adalah seorang pelakor."

"Apa?"
Suara Shenan meninggi tanpa sadar.
Keytaro yang sejak tadi diam langsung menegakkan tubuh.
"Pelakor?"
Pak Burhan mengangguk.
"Ya. Mereka menuduh Bulik Lidya memiliki hubungan dengan Om Arya. Bahkan ada tulisan-tulisan yang menyebut bahwa Bulik Lidya sengaja mendekati pria beristri."
"Tidak benar, Pak!"
Shenan langsung berdiri.
"Pak, itu tidak benar sama sekali!"
Air matanya mulai menggenang.
"Foto itu diambil beberapa bulan lalu. Saya ada di sana. Saya ikut makan malam bersama mereka. Om Arya cuma membahas persiapan cerdas cermat, dan memberi beasiswa untuk saya. Waktu itu saya bahkan ikut mendengarkan karena pembahasannya tentang sekolah!"

"Bapak mengerti," jawab Pak Burhan pelan.
"Tidak ada hubungan apa-apa antara Bulik Lidya dan Om Arya. Bulik cuma membantu karena Om Arya waktu itu sedang membahas kegiatan sekolah. Saya benar-benar ada di sana!"

Keytaro ikut berdiri.
"Pak, saya juga bisa memastikan itu."
Semua mata tertuju kepadanya.
Keytaro menatap Pak Burhan dengan wajah serius.
"Om Arya itu om saya. Saya tahu persis orangnya seperti apa. Dan saya tahu hubungan Tante Lidya dengan Om Arya. Mereka tidak punya hubungan seperti yang dituduhkan akun itu."

Pak Burhan terdiam.
Shenan tahu ada satu alasan mengapa kepala sekolah tampak jauh lebih berhati-hati ketika Keytaro berbicara.
Keytaro bukan murid biasa.
Ia adalah cucu dari pemilik sekolah.

"Karena itu," kata Pak Burhan akhirnya, "Bapak tidak mau mengambil keputusan terburu-buru."
Keytaro menyilangkan tangan di depan dada.
"Jadi sekolah percaya dengan akun anonim itu?"
"Tidak."
Jawaban Pak Burhan tegas.
"Tapi email tersebut sudah masuk ke pihak sekolah. Bapak juga tidak bisa begitu saja mengabaikannya karena menyangkut salah satu karyawan sekolah."

Pak Burhan menatap Lidya.
"Untuk sementara, Bapak menyarankan kita mencari tahu siapa pemilik akun tersebut. Jangan sampai ada orang yang sengaja membuat fitnah."

Shenan mengepalkan tangan.
"Kalau mereka memang sengaja melakukan ini... kenapa?"
Tidak ada yang menjawab.
Beberapa menit kemudian, pertemuan itu berakhir.
Lidya bangkit dari kursinya tanpa mengatakan apa pun. Ia bahkan tidak menoleh kepada Keytaro.

SHENANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang