Jam pertama adalah pelajaran olahraga, membuat seluruh siswa kelas X.3 berbondong-bondong keluar menuju lapangan basket yang berada di sisi tengah-tengah sekolah. Suasana cukup ramai dengan suara langkah kaki, obrolan para siswa, dan sesekali tawa yang pecah dari kelompok-kelompok kecil. Di tengah keramaian itu, Key berjalan di samping Shenan. Berbeda dengan biasanya, Shenan tampak diam. Matanya sembab, sedikit bengkak di bagian bawah, seolah belum benar-benar pulih dari tangisan panjang semalam. Rambutnya yang biasa rapi juga terlihat sedikit berantakan. Key melirik sekilas ke arah pacarnya itu sebelum akhirnya bertanya dengan suara pelan agar tidak didengar siswa lain.
"Semalam masih nangis?"
Shenan tidak langsung menjawab. Ia hanya menundukkan kepala beberapa saat, lalu mengangguk kecil.
Key menghela napas pelan. Ia tidak memberi komentar apa pun. Tidak ada nasihat, tidak ada pertanyaan lanjutan. Ia hanya berjalan di samping Shenan.
Guru penjas sudah berdiri di tengah lapangan sambil membawa papan taktik. Setelah seluruh siswa berkumpul, beliau mulai menjelaskan materi mengenai dasar-dasar permainan basket, posisi pemain, serta aturan pertandingan sederhana yang akan dilakukan hari itu. Sebagian siswa mendengarkan dengan antusias, sementara sebagian lainnya terlihat bosan. Key termasuk yang berada di kelompok kedua. Ia berdiri dengan kedua tangan di saku celana olahraga, memandang kosong ke arah ring basket tanpa benar-benar menyimak apa yang sedang dijelaskan.
Tak lama kemudian sesi teori selesai. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil untuk pertandingan tiga lawan tiga. Lapangan menjadi lebih hidup. Teriakan semangat, suara sepatu bergesekan dengan lantai lapangan, dan pantulan bola basket terdengar bersahutan. Tim putri mendapat giliran lebih dulu. Shenan berdiri bersama beberapa teman perempuannya di dekat garis lapangan, bersiap menunggu giliran bermain.
Namun perhatian Key sama sekali tidak berada pada pertandingan. Pikirannya melayang ke banyak hal yang terjadi beberapa hari terakhir. Ia bahkan tidak sadar ketika pertandingan pertama sudah dimulai. Tatapannya kosong, mengikuti sesuatu yang tidak benar-benar ia lihat.
Sampai kemudian sebuah sosok yang sangat dikenalnya muncul di ujung koridor gedung sekolah.
Key langsung tersentak.
Tante Sofie.
Wanita itu berjalan cepat dengan langkah tegas menuju arah kantor kepala sekolah. Wajahnya terlihat serius. Tidak seperti orang tua murid yang sedang berkunjung biasa.
Alis Key langsung berkerut.
Rasa penasaran muncul begitu saja. Tanpa berpikir panjang, ia menoleh ke arah guru yang sedang fokus mengawasi pertandingan. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Dengan langkah hati-hati, Key meninggalkan lapangan dari sisi belakang dan berjalan cepat menuju gedung administrasi sekolah.
Sesampainya di dekat kantor kepala sekolah, ia memperlambat langkah. Pintu ruangan tertutup, tetapi tidak rapat sepenuhnya. Dari celah kecil itu terdengar suara percakapan.
Key berdiri di balik dinding koridor dan mulai menguping.
"...saya tidak ingin masalah ini berlarut-larut, Pak," suara Tante Sofie terdengar jelas.
"Kami masih mempertimbangkan semua aspek, Bu Sofie."
"Tidak ada yang perlu dipertimbangkan lagi. Saya minta sekolah segera mengeluarkan Shenan dan Lidya dari lingkungan ini."
Jantung Key langsung berhenti sesaat.
Apa?
Tubuhnya menegang.
"Bagaimanapun juga keputusan seperti itu harus melalui prosedur sekolah," jawab kepala sekolah hati-hati.
"Saya harap prosesnya dipercepat."
Key mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Dadanya terasa panas. Berbagai emosi bercampur menjadi satu. Marah. Kaget. Tidak percaya. Namun ia memaksa dirinya tetap diam. Sekarang bukan waktunya bertindak gegabah.
Setelah beberapa saat, Key perlahan menjauh dari koridor itu dan kembali menuju lapangan basket.
Saat tiba di sana, pertandingan masih berlangsung. Tidak ada yang menyadari kepergiannya. Pandangannya segera mencari Shenan. Gadis itu sedang berdiri bersama teman-temannya di pinggir lapangan, memperhatikan permainan.
Key berjalan mendekat.
"Shen."
Shenan menoleh.
Tanpa banyak bicara, Key meraih pergelangan tangannya pelan dan menariknya sedikit menjauh dari kerumunan. Shenan tampak bingung hingga refleks mundur selangkah.
"Ada apa?" bisiknya.
Key memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka.
Lalu dengan suara sangat pelan ia berkata, "Nanti malam. Habis magrib. Datang ke rumahku."
Shenan berkedip.
"Kenapa?"
Key menggeleng.
"Nanti aja. Ada sesuatu."
Tatapan Shenan berubah penasaran sekaligus cemas. Namun melihat keseriusan wajah Key, ia akhirnya mengangguk pelan.
"Oke."
Key melepaskan tangannya dan kembali berdiri seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi di dalam kepalanya, percakapan yang baru saja ia dengar terus bergema.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENAN
Storie d'Amore"Iya, saya temenan sama siapa saja, mau dia nakal, baik, bodoh, pintar, kaya, miskin, gak akan ngerubah pandangan saya terhadap mereka sebagai manusia" Shenan, murid pindahan baru menemukan kehidupan barunya di ibu kota setelah kepergian kedua orang...
