Shenan melangkah memasuki gerbang sekolah dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya. Pagi itu langit cerah, namun entah kenapa suasana terasa berbeda. Saat melewati beberapa siswa yang sedang berkumpul di dekat taman sekolah, ia menangkap beberapa tatapan yang langsung berpaling ketika dirinya menoleh. Ada pula bisikan-bisikan pelan yang terdengar samar, diselingi lirikan sinis yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Awalnya Shenan mencoba mengabaikannya. Mungkin ia hanya terlalu sensitif. Namun semakin jauh ia berjalan menuju kelasnya, semakin banyak siswa yang menoleh ke arahnya. Beberapa bahkan tampak sengaja berbisik sambil melihat layar ponsel mereka.
"Itu dia, kan?"
"Iya, yang di foto itu."
"Pantes..."
Shenan mengernyit bingung. Apa maksud mereka?
Ia mempercepat langkah menuju kelas. Namun suasana di dalam kelas pun tidak jauh berbeda. Saat ia masuk, percakapan beberapa siswa mendadak terhenti. Ada yang pura-pura sibuk membuka buku, ada yang langsung menunduk menatap meja.
Perasaan tidak enak mulai menggerogoti pikirannya.
Matanya menelusuri kelas mencari kedua sahabatnya.
Benar saja, kedua sahabatnya sudah menunggu di bangku pojok tempat Shenan duduk. Namun ekspresi mereka terlihat aneh. Jeje tampak gelisah, sementara Putri beberapa kali menggigit bibirnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa sih?" tanya Shenan sambil duduk.
Jeje dan Putri saling berpandangan.
"Lo belum tahu?" tanya Putri pelan.
"Tahu apa?"
Jeje menghela napas panjang. "Shen... ada foto yang lagi nyebar di sekolah."
"Foto apa?"
Putri membuka ponselnya dengan ragu-ragu. Beberapa detik kemudian ia mendorong layar ponsel itu ke hadapan Shenan.
Mata Shenan langsung membelalak.
Di layar terlihat dirinya sedang duduk di sebuah taman sekolah, di sampingnya, Adryan memeluknya dari samping, satu tangan melingkar di bahunya seolah berusaha menenangkan.
Foto itu diambil dari sudut yang cukup jauh, tetapi cukup jelas untuk mengenali siapa orang di dalamnya.
Shenan terdiam.
Ia sangat mengenali momen itu.
Itu terjadi dua hari lalu saat lomba antarsekolah. Setelah penampilan tim mereka berakhir, Shenan sempat menangis karena merasa telah melakukan kesalahan yang membuat kelompoknya juara 3.
Tidak ada hal romantis. Tidak ada pengakuan perasaan. Tidak ada apa pun selain usaha sederhana untuk menenangkan teman yang sedang menangis.
Namun foto yang beredar sekarang terlihat sangat berbeda.
Karena diambil dari sudut tertentu, pelukan itu tampak jauh lebih intim daripada kenyataannya.
"Sejak kapan ini nyebar?" tanya Shenan pelan.
"Semalam," jawab Jeje. "Awalnya cuma di grup satu kelas. Terus nyebar ke mana-mana."
"Banyak yang mikir lo sama Adryan diam-diam pacaran," tambah Putri.
Shenan masih menatap foto itu dengan bingung. Kepalanya terasa penuh oleh berbagai pertanyaan.
Siapa yang memotret mereka waktu itu?
Siapa yang menyebarkannya?
Dan yang paling membuatnya tidak mengerti, mengapa orang-orang begitu cepat mengambil kesimpulan hanya dari satu foto?
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENAN
Romansa"Iya, saya temenan sama siapa saja, mau dia nakal, baik, bodoh, pintar, kaya, miskin, gak akan ngerubah pandangan saya terhadap mereka sebagai manusia" Shenan, murid pindahan baru menemukan kehidupan barunya di ibu kota setelah kepergian kedua orang...
