Di papan pengumuman depan kelas, jadwal **Ujian Akhir Semester** sudah ditempel sejak pagi. Tinggal dua minggu lagi. Hampir seluruh siswa mulai menunjukkan wajah tegang. Ada yang sibuk mencatat materi yang belum dipahami, ada yang mulai meminjam buku ke perpustakaan, dan tidak sedikit yang mengeluh karena baru sadar masih banyak bab yang belum dipelajari.
Berbeda dengan sebagian besar teman sekelasnya yang baru panik, Shenan dan Keytaro justru sudah menyusun jadwal belajar sejak beberapa hari sebelumnya.
"Kalau mau santai pas H-3, kita harus ngebut dari sekarang," kata Shenan sambil menuliskan daftar mata pelajaran di buku catatannya.
Keytaro mengangguk patuh.
"Siap, Bu Guru."
Shenan menggeleng sambil tertawa kecil.
"Jangan bercanda terus."
"Iya, Bu."
Sejak hari itu, hampir semua orang di kelas terbiasa melihat mereka selalu bersama sambil membawa setumpuk buku.
Saat jam istirahat, mereka duduk di kantin, bukan untuk mengobrol panjang, melainkan membahas soal matematika atau ekonomi. Kadang Shenan menjelaskan materi sambil menggambar diagram di tisu makan karena lupa membawa kertas tambahan. Keytaro mendengarkan dengan serius, sesekali mengangguk, lalu bertanya kalau ada yang belum dipahami.
Di perpustakaan pun sama.
Mereka memilih meja paling pojok yang tenang. Shenan sibuk membuat rangkuman berwarna-warni dengan tulisan yang rapi, sedangkan Keytaro mengerjakan soal latihan di sampingnya.
Kalau ada rumus yang salah, Shenan langsung mencoret.
"Itu bukan begitu."
"Oh iya."
"Kalau begini hasilnya malah minus."
"Pantesan hidupku minus."
"Mana ada."
"Soalnya belum kenal kamu waktu itu."
Shenan hanya memutar bola mata.
"Gombal."
"Tapi berhasil buat kamu senyum-senyum."
Shenan menahan tawa agar tidak mengganggu pengunjung perpustakaan.
Bahkan beberapa kali, setelah pulang sekolah, mereka belajar di rumah Keytaro. Lalu sorenya pulang. Karena ia belum berani membawa Key ke rumahnya.
"Widih rajin sekali kalian berdua", sapa om Ariya yang kebetulan ada keperluan di rumah Key.
Walau rumah Om Ariya bersebelahan, Om Ariya tetap mengawasi kegiatan Key tiap malam.
"Hehe iya om, persiapan ujian semester akhir".
"Kayaknya sekarang ada yang tiba-tiba rajin nih"
Shenan tersenyum melihat Key di sampingnya, yang masih mencatat rangkuman pelajaran biologi tanpa memberi respon om-nya.
"Lagi kasmaran juga kayaknya"
Key menahan malu dan melempar Om-nya tersebut dengan bantal sofa yang ada di dekatnya.
Om Ariya terbahak-terbahak dan langsung berjalan keluar rumah Key.
Suasana belajar mereka selalu santai, tetapi efektif. Jika mulai lelah, mereka akan istirahat sebentar, lalu kembali mengerjakan latihan soal.
Selain di rumah Keytaro, tempat favorit mereka ternyata adalah sebuah kafe kecil yang tidak jauh dari sekolah.
Di sana suasananya tenang, ada pendingin ruangan, dan musik yang diputar tidak terlalu keras sehingga nyaman untuk belajar.
Hampir setiap sore mereka menghabiskan waktu di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENAN
Storie d'Amore"Iya, saya temenan sama siapa saja, mau dia nakal, baik, bodoh, pintar, kaya, miskin, gak akan ngerubah pandangan saya terhadap mereka sebagai manusia" Shenan, murid pindahan baru menemukan kehidupan barunya di ibu kota setelah kepergian kedua orang...
