17. Kecewa

83 2 0
                                        

Shenan berdiri di depan gerbang rumah besar milik Om Ariya dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat. Langit sore mulai berubah jingga, tetapi hatinya terasa jauh lebih kelabu daripada warna langit di atas sana.

Sesekali ia melirik ke arah rumah Keytaro yang ada di samping rumah om Ariya, terlihat sangat sepi.

Sudah hampir lima belas menit ia berputar-putar di sekitar kompleks perumahan itu sebelum akhirnya memberanikan diri menekan bel.

Dadanya terasa sesak.

Ia datang bukan sebagai murid berprestasi yang biasanya membawa kabar baik. Kali ini ia datang membawa rasa bersalah.

Lomba cerdas cermat yang selama berbulan-bulan dipersiapkan akhirnya selesai dua hari lalu. Shenan dan tim sekolahnya berhasil meraih juara tiga. Bagi sebagian orang, itu adalah pencapaian yang membanggakan.

Namun bagi Shenan, hasil itu terasa seperti kegagalan.

Sekolah tempatnya belajar memberikan beasiswa penuh untuknya. Salah satu orang yang paling berjasa adalah Om Ariya, salah satu pemilik yayasan sekolah yang sejak awal percaya pada kemampuannya. Shenan merasa telah mengecewakan harapan mereka.

Pintu rumah terbuka.

Seorang asisten rumah tangga tersenyum ramah.

"Nyari siapa ya adek?."

"Anu.. Pak Ariya ada?", ujar Shenan dengan sedikit bergetar.

"Sudah buat janji belum ya?".

"Em belum, bilang aja ini Shenan, murid dari Bina Bangsa".

"Oh iya, sebentar ya", sambil membukakan gerbang dan mempersilahkan Shenan masuk. Lalu mempersilahkan Shenan duduk di ruang tamu. Tapi Shenan merasa sungkan, akhirnya ia hanya berdiri di ruang tamu.

Rumah itu terasa hangat dan nyaman. Aroma kopi dan kue baru dipanggang memenuhi ruangan.

Tak lama kemudian, Om Ariya muncul dari ruang kerja.

Pria berusia empat puluhan itu langsung tersenyum lebar.

"Shenan! Tumben kesini."

Shenan menundukkan kepala.

"Selamat sore, Om."

"Kenapa berdiri saja? Duduk dulu."

Mereka duduk berhadapan di ruang tamu.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Shenan mencoba mengumpulkan keberanian.

"Om..."

"Iya?"

"Saya datang untuk minta maaf." Dada Shenan berdegub kencang.

Om Ariya terlihat bingung.

"Minta maaf?"

Shenan menundukkan wajah lebih dalam.

"Saya tidak bisa menang juara satu."

Kalimat itu akhirnya keluar.

"Saya hanya juara tiga."

Tangannya mulai gemetar.

"Saya sudah belajar keras. Saya benar-benar berusaha. Tapi saat babak final saya banyak melakukan kesalahan. Saya merasa sudah mengecewakan sekolah."

Suaranya mulai bergetar.

"Om sudah memberi saya kesempatan sekolah dengan beasiswa. Guru-guru juga percaya sama saya. Tapi hasilnya cuma juara tiga."

Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh.

SHENANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang