34. Puncak

2 0 0
                                        

Jam tiga pagi, kampung itu masih tenggelam dalam gelap. Hanya beberapa lampu rumah yang menyala, sementara suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing menjadi pengisi kesunyian. Udara terasa dingin, jauh lebih dingin daripada biasanya.

Keytaro berdiri di depan rumah Shenan sambil merapatkan jaketnya. Di sampingnya, Shenan sibuk memeriksa tas kecil yang akan dibawanya. Ia memastikan botol minum, makanan ringan, jaket cadangan, dan beberapa barang lainnya sudah masuk.

"Sudah semua?" tanya Keytaro.

Shenan mengangguk. "Sudah."

Belum sempat mereka berbicara lebih jauh, suara mesin mobil terdengar dari kejauhan. Suaranya kasar dan sedikit tersendat-sendat, seolah mobil itu sedang berusaha mengumpulkan tenaga untuk bangun dari tidurnya.

"Itu pasti Bayu," kata Shenan.

Benar saja. Sebuah mobil tua berhenti di depan rumah. Catnya sudah kusam, beberapa bagian bodinya terlihat penyok, dan suara mesinnya membuat Shenan mengernyit.

Angga menurunkan kaca jendela.

"Ayok ndang munggah! Sebelum mobilnya berubah pikiran!"

Wati yang duduk di belakang langsung tertawa. Wahyu ikut membuka pintu.

"Ini mobil atau benda peninggalan sejarah?" ejek Shenan.

"Mbuahmu," jawab Bayu dari balik kemudi. "Mobil bekas VOC."
Semua lalu terkekeh dengan celetukan bayu.

"Termasuk mengantarkan kita ke rumah sakit?" sahut Angga.

"Lambemu, Ngga.. amit-amit", Ujar Wati sambil memukul bahu Angga.
Mereka semua tertawa.

Perjalanan menuju bukit hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Namun bagi Shenan, dua jam itu terasa lebih panjang. Sejak mobil meninggalkan kampung, ia lebih banyak diam. Pandangannya berkali-kali tertuju ke jendela. Jalanan gelap, pepohonan berdiri seperti bayangan besar di sepanjang jalan.

Keytaro yang duduk di sampingnya memperhatikan perubahan itu.

"Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"kelihatan tegang."

Shenan tersenyum tipis. "Aku cuma ngerasa nggak enak hati."

"Takut?"

Shenan tidak langsung menjawab.

Dari kursi depan, Angga tiba-tiba menyahut, "Hei, Shenan! Santai wae! Ini naik bukit, bukan pergi perang!"

Wahyu tertawa.

"Jangan-jangan dia berpikir nanti ada monster keluar dari balik pohon."

"Betul!" Angga melanjutkan. "Tenang. Tidak akan seperti film-film. Tidak ada hantu yang tiba-tiba mengejar kita. Tidak ada orang hilang. Tidak ada adegan jatuh dari tebing."

"Mulutmu itu," tegur Wati. "Malah bikin takut."

Angga tertawa puas.

Keytaro menggenggam tangan Shenan pelan.

"Dengar mereka. Kita cuma mendaki. Kalau kamu capek, kita berhenti. Kalau kamu takut, aku ada di sini."

Shenan menoleh kepadanya.

"Bener?"

"Janji."

Mobil terus melaju sampai akhirnya mereka tiba di tempat awal pendakian. Langit masih gelap ketika mereka turun. Udara di sana jauh lebih dingin. Bayu memimpin jalan, sementara Wahyu dan Angga sibuk membawa perlengkapan.

Shenan baru berjalan beberapa langkah ketika kakinya tersandung batu.

"Ah!"

Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Keytaro cepat-cepat memegang lengannya.

SHENANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang