28. Ujian

8 0 0
                                        

Bel ujian akhir semester berdentang nyaring, memantul ke seluruh penjuru SMA Bina Bangsa. Suasana sekolah yang biasanya dipenuhi obrolan santai berubah menjadi tegang. Hampir semua siswa membawa catatan kecil di tangan, membaca rumus dan menghafal poin-poin penting hingga detik terakhir sebelum memasuki ruang ujian. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, Shenan dan Keytaro justru tampak paling tenang. Keduanya berjalan berdampingan menuju papan pengumuman pembagian ruang ujian sambil sesekali mendiskusikan materi yang semalam mereka pelajari bersama.

"Kayaknya soal tentang elastisitas nanti pasti keluar," ucap Shenan pelan.

Keytaro mengangguk mantap. "Kalau keluar, gampang. Yang kemarin kamu jelasin akhirnya masuk juga ke otakku."

Shenan terkekeh. "Syukurlah. Kukira cuma masuk kuping kanan, keluar kuping kiri."

"Nggak dong."

Mereka saling melempar senyum. Selama dua minggu terakhir, hampir setiap sore mereka belajar bersama. Di perpustakaan, di rumah Shenan, di kafe, bahkan di warung Bang Ali sambil menikmati es teh. Waktu-waktu itu ternyata membuahkan hasil. Keytaro yang biasanya lebih dikenal sebagai siswa berandalan kini berubah menjadi jauh lebih disiplin.

Begitu bel masuk berbunyi, seluruh siswa berbaris menuju ruang masing-masing.

Sementara itu, Jeje, Putri, Rama, dan Fadlan justru berjalan dengan wajah pasrah.

"Gue lupa belajar sejarah," keluh Jeje sambil memegangi kepala.

Putri menghela napas panjang. "Gue malah ketiduran semalam."

Rama menoleh ke Fadlan. "Lu belajar nggak?"

Fadlan menggeleng santai.

"Belajar... bentar."

"Berapa lama?"

"Lima menit."

Rama memandang langit-langit koridor. "Ya Tuhan..."

Mereka semua tertawa meski sebenarnya sama-sama cemas.

Begitu melihat daftar ruang ujian, Rama langsung berseru keras.

"HAH?! Gue pisah sama Shenan?"

Fadlan ikut mendekat.

"Apaan? Gue juga!"

Rama memegang pundak Keytaro dengan dramatis.

"Key, masa tega ninggalin sahabatmu?"

Keytaro menaikkan sebelah alis.

"Memangnya kenapa?"

"Gimana gue mau... eh... mengembangkan kemampuan observasi jawaban kalau Shenan nggak satu ruangan?"

Shenan langsung menyela sambil tertawa.

"Observasi jawaban apaan?"

"Ya... istilah halus buat nyontek."

Semua langsung tertawa.

Putri menepuk bahu Rama.

"Udah sadar aja kalau mau nyontek."

"Bercanda kali."

"Iya, bercanda. Tapi kalau satu ruangan sama Shenan kan lumayan..." gumam Fadlan sambil menyeringai.

Keytaro langsung berdiri di depan Shenan seperti bodyguard.

"Nggak boleh."

"Lah, emang jawaban Shenan punya hak cipta?"

"Punya."

"Sejak kapan?"

"Sejak dia ngajarin gue."

Rama menggeleng.

SHENANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang