Jam pertama hari itu kosong karena guru mata pelajaran sedang mengikuti rapat. Kelas X.3 sudah hampir penuh sejak pagi. Suasana ramai seperti pasar kecil. Ada yang mengobrol, bermain kartu, mengerjakan tugas, bahkan beberapa siswa sudah tertidur di atas meja.
Shenan sedang duduk bersama Putri dan Jeje ketika Rama tiba-tiba muncul di depan pintu kelas dengan napas sedikit terengah.
"Woi, telat lagi!" teriak Fadlan dari belakang.
Rama mengangkat tangan malas.
"Yang penting datang."
Alih-alih langsung duduk, Rama justru mengambil penghapus papan tulis yang tergeletak di meja guru. Seluruh kelas memperhatikannya dengan bingung.
"Mau ngapain tuh anak?" gumam Putri.
Rama tidak menjawab. Dengan santai ia menghapus tulisan-tulisan sisa pelajaran kemarin. Setelah papan bersih, ia mengambil spidol hitam dan mulai menulis besar-besar.
KEY LOVE SHENAN
Seketika satu kelas riuh.
"WOOOOOO!"
"CIEEEEE!"
"AKHIRNYA DITULIS RESMI!"
Shenan langsung membelalak.
"RAMA!"
Wajahnya memerah seketika. Jeje sampai tertawa sambil memukul meja.
"Bagus! Bagus!"
Sementara itu Keytaro yang sejak tadi duduk santai di pojok belakang hanya menggeleng sambil menahan senyum.
Rama menepuk-nepuk hasil karyanya dengan bangga.
"Karya seni."
"Karya masalah," balas Shenan kesal.
Namun sebelum suasana semakin heboh, terdengar suara kursi bergeser cukup keras.
Bella berdiri dari tempat duduknya.
Ekspresinya jelas tidak senang.
"Cih."
Keributan kelas perlahan mereda.
Bella melipat kedua tangan di dada.
"Gak salah sih."
Beberapa siswa mulai saling pandang.
"Gak salah apa?" tanya Rama.
Bella menatap tulisan di papan tulis dengan sinis.
"Gak salah Keytaro milih cewek kampungan."
Kelas mendadak sunyi.
Senyum di wajah Shenan perlahan menghilang.
Putri langsung berdiri.
"Eh, Bella—"
Namun sebelum Putri selesai bicara, suara kursi lain terdengar bergeser.
Keytaro berdiri.
Tidak keras.
Tidak membentak.
Tetapi ekspresinya yang biasanya santai berubah dingin.
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
"Ada masalah, hah?"
Bella menoleh.
"Hah?"
Key melangkah beberapa langkah ke depan.
"Tadi lo bilang apa?"
Bella tampak sedikit gugup, tetapi tetap berusaha mempertahankan sikapnya.
"Gue cuma bilang pendapat."
"Pendapat?"
"Iya lah."
Key memasukkan kedua tangan ke saku celananya.
"Memangnya kenapa kalau gue pacaran sama Shenan?"
Bella tidak langsung menjawab.
Key melanjutkan.
"Shenan baik."
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENAN
Romansa"Iya, saya temenan sama siapa saja, mau dia nakal, baik, bodoh, pintar, kaya, miskin, gak akan ngerubah pandangan saya terhadap mereka sebagai manusia" Shenan, murid pindahan baru menemukan kehidupan barunya di ibu kota setelah kepergian kedua orang...
