35. Kelas XI

0 0 0
                                        

Pagi itu Keytaro sudah berdiri di depan rumah sederhana Bu Lidya. Udara masih dingin dan jalanan kampung belum terlalu ramai. Ia sesekali melihat jam di ponselnya, lalu kembali menatap pintu rumah sambil menunggu Shenan keluar. Hari pertama sekolah di kelas sebelas membuat suasana terasa sedikit berbeda. Mereka masih bersekolah di tempat yang sama, tetapi kali ini mereka tidak lagi berada di kelas yang sama.

Pintu rumah akhirnya terbuka. Shenan muncul dengan seragam putih abu-abu dan tas yang menggantung di bahunya. Rambutnya sudah tertata rapi, meskipun beberapa helai masih jatuh di dahinya.

"Kamu datang pagi banget tumben."

Keytaro tersenyum.

"Kalau aku datang siang, nanti kamu berangkat sama siapa?"

"Biasanya juga berangkat sendiri naik ngkot."

"Nggak boleh."

Shenan menatapnya heran.

"Lah Kenapa?", sambil menata rambutnya yang masih setengah basah.

Keytaro mengambil helm yang sudah disiapkannya.

"Karena kamu pacarku."

Pipi Shenan langsung memerah.

"Alasan."

Keytaro tertawa kecil.

"Ayo, nanti telat."

Mereka pun berangkat bersama. Namun, sesampainya di sekolah, keduanya harus berpisah menuju kelas masing-masing. Keytaro masih satu kelas dengan Jeje dan Fadlan. Putri berada di kelas yang sama dengan Rama. Sementara Shenan harus masuk ke kelas yang benar-benar baru baginya.

Di depan kelas, Shenan berhenti sejenak. Dari dalam ruangan terdengar suara teman-teman barunya yang sedang bercanda. Beberapa wajah sudah dikenalnya sekilas, tetapi sebagian besar masih asing.

Ia menarik napas panjang.

"Semoga tahun ini nggak seburuk kelas sepuluh.", ujarnya dalam benak.

Shenan kemudian masuk dan memilih bangku yang masih kosong. Di sebelahnya duduk seorang gadis bernama Aulia. Tidak membutuhkan waktu lama bagi keduanya untuk mulai berbicara. Aulia ternyata cukup ramah dan mudah diajak bercanda.

"Kamu Shenan, kan?"

"Iya."

"Aku Aulia."

"Salam kenal."

"Salam kenal juga. Kamu dulu kelas berapa?"

Shenan menyebutkan kelas X.3. Aulia kemudian bercerita tentang beberapa teman di kelas baru mereka. Percakapan sederhana itu membuat Shenan perlahan merasa nyaman.

Berbeda dengan saat kelas sepuluh dulu, kali ini tidak ada suasana permusuhan yang terlalu terasa. Dulu kelasnya dipenuhi anggota geng Gof yang seolah alergi terhadap Shenan dan teman-temannya. Tatapan sinis, bisik-bisik, dan berbagai masalah membuat Shenan membutuhkan waktu lama untuk merasa nyaman.

Sekarang semuanya berbeda.

Meski belum mengenal siapa pun dengan baik, Shenan merasa setidaknya ia masih bisa memulai semuanya dari awal.

Namun, baru beberapa jam mengikuti pelajaran, Shenan sudah mendapatkan masalah baru.

Seorang anggota OSIS datang ke kelas dan memanggilnya.

"Shenan, kamu dipanggil Bu Vita ke ruang OSIS."

Shenan mengangkat kepala.

"Saya?"

"Iya. Sekarang."

Dengan bingung Shenan akhirnya mengikuti siswa tersebut menuju ruang OSIS. Di sana, Bu Vita sudah menunggunya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 29 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SHENANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang