33. Pulang Kampung

0 0 0
                                        

Seharian Key mencoba menghubungi Shenan, tetapi tidak ada jawaban. Pesannya hanya terbaca sesekali, lalu kembali sunyi. Bahkan ketika malam tiba, Shenan tetap tidak memberikan kabar.
Key duduk di tepi tempat tidur sambil menatap layar ponsel.
Pikiran terburuk mulai bermunculan.
Bagaimana kalau Shenan benar-benar pindah?
Bagaimana kalau Bulik Lidya sudah memutuskan semuanya?
Bagaimana kalau setelah pulang ke Solo, Shenan tidak akan kembali lagi?
Key mengusap wajahnya.
Ia tidak tahu mengapa ketakutan itu terasa begitu besar.
Ia takut kehilangan Shenan.
Benar-benar takut.
Akhirnya Key mengambil keputusan.
Kalau Shenan tidak mau menjawab pertanyaannya, ia akan datang sendiri.
Pagi-pagi sekali Key menelepon bagian tata usaha sekolah.
"Pak, saya mau menanyakan data asal sekolah salah satu siswa."
"Data siswa tidak bisa sembarangan diberikan."
"Saya mengerti, Pak. Tapi ini penting."
Key menjelaskan situasinya dengan cepat. Ia menyebut beberapa nama, memberikan alasan yang menurutnya cukup meyakinkan, dan sedikit memaksa agar informasi itu diberikan.
Awalnya pegawai TU menolak.
Namun Key tidak menyerah.
Tidak lama, akhirnya informasi yang ia cari didapatkan.
Alamat sekolah asal Shenan.
Kota.
Kabupaten.
Bahkan alamat rumah lama yang masih tercatat dalam data.
Solo.
Key langsung membuka aplikasi penerbangan.
Jarinya bergerak cepat.
Ada satu penerbangan paling pagi keesokan harinya.
Key menatap jadwal itu.
"Besok."
Tanpa berpikir panjang, ia memesannya.

Pesawat mendarat keesokan paginya.
Begitu turun, Key langsung memesan taksi.
Ia menunjukkan alamat kepada pengemudi.
"Pak, bisa antar saya ke sini?"
Sopir melihat layar ponselnya cukup lama.
"Wah, lumayan jauh, Mas."
"Nggak apa-apa, Pak."
Perjalanan memakan waktu hampir satu setengah jam.
Semakin jauh dari pusat kota, pemandangan mulai berubah. Gedung-gedung tinggi perlahan berganti dengan rumah-rumah sederhana, pepohonan, persawahan, dan jalan yang semakin kecil.
Key terus memeriksa alamat.
Akhirnya taksi berhenti di sebuah gang.
"Mas, kalau ke dalam sepertinya mobil saya nggak bisa."
Key turun.
"Di sini saja, Pak."
Ia membayar, kemudian berdiri sendirian di pinggir jalan.
Untuk pertama kalinya Key merasa gugup.
Ia benar-benar datang ke kampung halaman Shenan.
Key mengeluarkan ponsel.
Ia mencoba menelepon Shenan.
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba lagi.
Kali ketiga...
Tersambung.
"Halo?"
Suara Shenan terdengar dari seberang.
Key hampir menghela napas lega.
"Shenan."
"Iya?"
"Kamu di mana?"
"Di rumah."
"Aku di kampung kamu."
Hening.
"Apa?"
Key tersenyum tipis.
"Aku di gang dekat alamat rumahmu."
"Key?!"
Beberapa menit kemudian terdengar suara motor mendekat.
Shenan muncul dengan motor sederhana.
Ia turun dengan ekspresi yang benar-benar tidak percaya.
"Kamu gila?"
Key tertawa kecil.
"Kenapa?"
"Kenapa kamu bisa sampai sini?"
"Aku cari kamu."
Shenan hanya bisa menggeleng.
"Kamu benar-benar datang?"
"Iya."
Shenan menatapnya beberapa detik.
Kemudian ia menghela napas.
"Ya sudah. Ayo."
Rumah Bulik Lidya berada tidak terlalu jauh.
Begitu sampai, Key turun dari motor.
Bulik Lidya yang sedang berada di teras langsung terdiam ketika melihatnya.
"Keytaro?"
Key tersenyum.
"Iya, Bu."
Bulik Lidya memandang Shenan, lalu kembali menatap Key.
"Kamu datang dari Jakarta?"
Key mengangguk.
"Iya."
"Sendirian?"
"Iya."
Wajah Bulik Lidya perlahan berubah.
Ada sesuatu yang melembut dalam sorot matanya.
"Kamu datang sejauh ini cuma karena Shenan?"
Key tidak langsung menjawab.
"Karena saya takut Shenan benar-benar pergi."
Bu Lidya terdiam.
Selama beberapa saat perempuan itu hanya menatap Key.
Kemudian matanya berkaca-kaca.
"Maafkan Ibu."
Key terkejut.
"Bu.. nggak papa kok"
"Selama ini Ibu terlalu dingin sama kamu."
Key menggeleng.
"Nggak apa-apa."
"Bulik cuma takut Shenan semakin banyak terluka."
Key duduk di teras.
"Saya juga takut dia terluka."
Bulik Lidya mengusap mata.
"Justru itu yang membuat Ibu sadar. Kamu benar-benar peduli sama Shenan."
Shenan yang berdiri di dekat pintu hanya diam.
Bulik Lidya kemudian menjelaskan keputusannya.
Ia memang akan tetap pindah tempat kerja.
Namun Shenan tidak akan dipaksa sekolah di tempat tertentu.
"Shenan bebas memilih," kata Bulik Lidya. "Mau sekolah di mana pun, yang penting dia nyaman dan bahagia."
Shenan tersenyum kecil.
Key merasa lega.
Setidaknya satu ketakutannya telah hilang.
Sore hari, Shenan mengajak Key berjalan-jalan.
Mereka melewati jalan desa yang tenang sampai tiba di sebuah sungai.
Key terdiam melihat pemandangan di depannya.
Sebuah bangunan tua bergaya kolonial berdiri di dekat aliran sungai. Bentuknya sederhana tetapi memiliki daya tarik tersendiri. Di kejauhan, hamparan sawah terbentang luas.
"Indah banget."
Shenan tersenyum.
"Ini salah satu tempat favoritku."
Mereka duduk di tepi sungai.
Key memandang Shenan.
"Aku masih nggak percaya kamu benar-benar ada di sini."
"Justru aku yang nggak percaya kamu bisa sampai ke sini."

"Tapi kamu kenapa susah dihubungi sih?"
"Kenapa kangen?"
"Yaiyalah, kalau gak sayang gak akan kangen!"
"Sebenernya aku bingung banget kemarin-kemarin"
Key menatapnya.

"Maaf ya Key, bikin kamu khawatir ".

"Gak papa, tapi lain kali jangan ngilang-ngilang lagi ya"

"Hmmm kayak kamu gak pernah tiba-tiba ngilang"

"impas dong"

Key tertawa.

Kemudian ia mulai menceritakan semuanya.
Tentang Raisa.
Tentang email.
Tentang Fatimah.
Tentang akun Instagram yang selama ini menyebarkan fitnah terhadap Bulik Lidya dan Om Ariya.
Shenan mendengarkan dengan wajah terkejut.
"Fatimah?"
"Iya."
Shenan menatap aliran sungai.
"Kok bisa?"
"Dia partner lombaku. Dia baik. Rajin. Bahkan menurutku dia salah satu orang paling sopan di sekolah."
Key menghela napas.
"Kadang orang menyimpan sesuatu yang nggak kelihatan."
Shenan terdiam.
Key melanjutkan.
"Katanya dia suka Adrian."
Shenan mengerutkan dahi.
"Padahal aku gak pernah sama Adrian, kenapa dia cemburu."
"Aku tahu."

Keytaro sebenarnya tahu bahwa Adrian sebenernya suka kepada Shenan, walau itu tidak tersampaikan.

"Tapi..."
Shenan menunduk.
"Mungkin dia salah paham."
Key tiba-tiba teringat sesuatu.
"Tunggu."
"Apa?"
"Foto kamu dipeluk Adrian."
Shenan langsung menatapnya.
"Jangan-jangan..."
"Fatimah juga?"
Shenan terdiam cukup lama.
"Bisa saja."
Key menatapnya.
"Kamu nggak marah?"
"Yaudah sih, sudah berlalu juga."
Shenan tersenyum kecil.
"Biarkan saja."
Key menghela napas.
"Kalau aku jadi kamu, mungkin aku bakal ngamuk."
Shenan tertawa.
"Itulah bedanya kita."

Setelah dari sungai, Shenan mengajak Key ke sebuah taman kecil di tengah desa.
Di sana mereka bertemu seorang pemuda.
"Shen!"
Shenan langsung tersenyum.
Mereka berbicara menggunakan bahasa Jawa.
Key hanya berdiri di samping mereka sambil mencoba memahami percakapan.
Pemuda itu kemudian menoleh kepadanya.
"Iki sopo?"
Shenan hendak menjawab.
Namun Key lebih cepat.
Untungnya ia paham arti kata itu.
"Pacarnya Shenan."
Shenan langsung menoleh.
"Key!"
Pemuda itu tertawa.
"Pacar?"
Key mengangguk santai.
"Iya."
"Namaku Bayu."
"Keytaro."
Bayu kemudian mengajak Shenan reuni bersama teman-teman lama di rumah Wati.
Shenan tampak tertarik.
Key sebenarnya tidak ingin ikut.
Namun ketika Shenan mengatakan akan pergi sendiri, Key akhirnya mengalah.
Mereka pergi bersama.
Rumah Wati membuat Key sedikit terkejut.
Rumah itu berbentuk pendopo sederhana dengan banyak unsur kayu. Halamannya luas dan dipenuhi tanaman. Suasananya teduh dan asri.
Beberapa teman lama Shenan sudah berkumpul.
Mereka langsung menyambut Shenan dengan ramai.

Key duduk di samping Shenan.
Namun ia lebih banyak diam.
Percakapan berlangsung dalam bahasa Jawa.
Key hanya bisa tersenyum ketika yang lain tertawa.
Salah satu pemuda bernama Wahyu tampak paling sering menggoda Shenan.
Key beberapa kali memperhatikannya.
"Wah, Shenan saiki putih tenan. Tambah ayu kaya wong kota."
Key tidak sepenuhnya memahami bahasa Jawa, tetapi entah bagaimana ia menangkap maksudnya.
Shenan tertawa malu.
Key mengangkat alis.
Wahyu kembali menggoda.
Key hanya menatapnya.
Menjelang malam, Bayu tiba-tiba mengusulkan perjalanan ke sebuah bukit di kabupaten sebelah.
"Besok kita naik ke atas."
Shenan langsung menggeleng.
"Nggak mau ah, medeni (bahaya)."
Wahyu tertawa.
"Ah, Shenan saiki penak. Wis dadi wong kota."
Key yang merasa terusik akhirnya menyela.
"Kalau memang cuma sehari, ikut saja."
Shenan menatapnya.
"Kamu serius?"
Key mengangguk.
"Mumpung libur."
Sesampainya di rumah, Bulik Lidya langsung menolak.
"Nggak boleh."
"Bulik..."
"Naik bukit itu capek. Kalian cuma punya waktu sebentar."
Key mencoba meyakinkan.
"Kami akan mencoba hati-hati Bu."
Shenan ikut membujuk.
"Aku juga nggak akan lama."
Akhirnya Bulik Lidya menghela napas.
"Baik. Tapi sehari saja. Setelah itu langsung pulang."
Key tersenyum puas.
"Siap, Bulik."
Keesokan harinya mereka pergi ke kota mencari perlengkapan.
Key sebenarnya tidak pernah membayangkan akan berada di Solo untuk mendaki bukit bersama Shenan dan teman-temannya.
Namun saat melihat Shenan mencoba beberapa perlengkapan sambil tersenyum, Key merasa perjalanan ini mungkin akan menjadi salah satu kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan.
Ia belum tahu bahwa perjalanan menuju bukit itu akan membawa mereka pada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar reuni teman lama.

SHENANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang