#39

11 1 10
                                        

Mentor yang sebelumnya pergi mengejar para pelaku penyerangan telah kembali bersama Ejen dari cabang 4. Setelah mendengar cerita dari Ejen inti tentang alasan kenapa tidak ada Rizka dan Chris, Ejen mentor memberikan teguran pada Soni dan mengingatkan dia untuk meminta maaf pada Rizka.

"Sekarang kita fokus pemulihan terlebih dahulu. Untuk para pelaku kita bisa mendengar data mereka dari Rudy, Jet, Khai dan juga Chris. Karena mereka berempat pernah berhadapan dengan para pelaku penculikan." ucap Ejen Leon.

"Saya juga ingin menambahkan. Ejen cawangan dua terpaksa ikut tinggal di dalam akademi, di sebabkan oleh penyerangan barusan pihak hotel ingin melaporkan masalah ini pada polisi. Jadi sebelum kita semua di tangkap, ada baiknya kita pergi." Ejen Denis mengakhiri pidatonya dengan meminta para Ejen kembali ke kamar dan ke rumah masing-masing.

Sekarang hanya tersisa para mentor bersama ketua Teras, mereka menonton kembali rekaman saat para pelaku menerobos masuk dan memancing mereka untuk menjauh dari para Ejen wanita.

"Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?" Jenderal Rama merenung memikirkan kemungkinan peluang hidup Ejen muda.

"Haruskah kita turunkan protokol gegas, mengigat lawan kali ini sangat berbahaya." lanjutnya yang langsung mendapat penolakan dari Ejen Ayu.

"Kita belum mencoba semua cara kenapa langsung menyerah! Dari dulu saya tidak suka dengan protokol itu. Sangat tidak manusiawi!" protes Ejen Ayu tanpa takut di skorsing.

Jenderal Rama juga sadar keputusannya terlalu cepat dan terkesan jahat bagi korban penculikan, tapi jika misi penyelamatan ini di teruskan maka akan lebih banyak lagi Ejen muda yang gugur nantinya.

"Kita bisa menyerahkan misi penyelamatan ini pada para Ejen. Mereka bukan budak lagi." saran Ejen Steven, tanpa persetujuan Ejen Geetha dia memutar rekaman pertarungan selama Arena.

"Korang semua setuju kan." lanjutnya meyakinkan para mentor yang ragu.

Ejen Bakar ingin memprotes tapi di hentikan oleh Ejen Leon, sepertinya tidak ada cara lain, lagipula ini bukan kali pertama mereka berhadapan dengan sekumpulan penjahat. Yang jadi permasalahan hanya satu, mereka tahu dimana para pelaku tapi tidak tahu kemana mereka membawa Ejen wanita. Ejen senior sudah mengecek markas musuh dan tidak menemukan Ejen muda di sana.

"Nampaknya, kita mesti ikut apa yang mereka mau." ucap Ejen Karya, matanya tak lepas dari tulisan besar yang ada di dinding ruangan itu.

"Jangan gegabah! Mereka inginkan kendali penuh MATA, itu lagi berbahaya!" peringat Ejen Cecilia.

"Nyawa Ejen muda kita taruhannya. Pilihan yang tepat ialah melawan!" ucap Ejen Alif sambil menggebrak meja, tidak habis pikir kenapa masih ada mentor yang ragu.

Hening beberapa saat sampai Ejen Geetha teringat sesuatu.

"Afifah dan yang lain mana? Mereka je yang tak de. Kena culik juga keh?" panik Ejen Geetha.

"Oh mereka aku hukum sebab tak datang latihan beberapa hari ni." sahut Ejen Ganz santai.

"Besok saya nak semua Ejen di kumpulkan. Kita akan melakukan penyerangan sebelum semuanya terlambat." ucap Ejen Dayang tegas.

Malam itu berlalu dengan tenang tanpa ada gangguan tapi tidak begitu tenang karena semua Ejen mengkhawatirkan keselamatan Ejen wanita yang menjadi sandera.

Bahkan keesokan harinya, Ejen yang bersekolah tidak fokus selama pelajaran sampai waktu pertemuan di tentukan, Ali dan Alicia bergegas mengabaikan panggilan Afifah. Mereka berdua seolah lupa bahwa Afifah juga seorang Ejen.

"Jadi apa rancangannya, Ejen Dayang?" tanya Ali tanpa basa-basi.

"Ejen senior sudah memastikan markas musuh, jadi tugas kalian ialah memeriksa tiap sudut tempat itu selama kami menghadapi mereka." jawab Ejen Dayang seraya menunjukkan denah markas musuh.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 41 minutes ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

REUNI (Enam)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang