Partner For Life - Part 21

2.4K 86 0
                                        

Sabtu, 17 Januari 2015 ( 12:55 WIB )

Jalan Hagya Sopia, Yogyakarta

Rumah Sakit Permata Hijau, Yogyakarta

Ify mengangkat kepalanya dari lengan kekar Cakka dan memandang wajah Cakka yang sangat dicintainya itu. Sudah cukup baginya untuk merasakan kenyamanan berada dalam lengan laki – laki koma yang dicintainya itu. Ify memperhatikan lekuk wajah tampan Cakka yang mengenakan masker oksigen itu dengan sangat detail, sekilas memang tidak ada yang berubah dari Cakka. Pemuda itu masih sama, masih lemah terpejam dalam komanya dengan alat – alat medis di tubuhnya.

Namun perlahan – lahan Ify mulai menyadari ada seperti bekas aliran air mata yang masih basah di pelipis Cakka, kemudian mata gadis itu tertuju pada bantal putih yang menyangga kepala Cakka. Ify melihat dengan jelas ada bagian dari bantal putih itu yang sedikit basah. Kemudian gadis itu menyentuh dan membelai kening Cakka, ia baru menyadari jika Cakka baru saja mengeluarkan air matanya, pemuda itu menangis dalam komanya.

"Cakka... kamu...kamu menangis ?" ujar Ify terbata – bata, ia masih belum percaya jika pemuda tampan itu mengeluarkan air matanya. Gadis itu menggenggam tangan Cakka dengan erat, ia berusaha mencari tanda reaksi dan respon kesadaran dari Cakka. Ify terus menggenggam tangan Cakka, berharap pemuda tampan itu menggerakan jari – jarinya.

"Cakka, kamu denger aku ? Bangun Cakka! Bangun..." Ify terus berbicara, ia tidak tahu apakah Cakka bisa mendengarnya atau tidak. Yang jelas dengan reaksi Cakka yang mengeluarkan air mata, gadis itu optimis kalau Cakka akan sadar dari koma dan membuka matanya.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar rawat Cakka terbuka. Kedua orang tua Cakka kembali ke kamar rawat Cakka setelah mereka menemui dokter Duta untuk membicarakan mengenai keadaan putra mereka itu. Papa dan mama Cakka melihat Ify sedang duduk di samping ranjang Cakka, gadis itu terlihat gugup sambil menggenggam tangan lemah Cakka.

"Ify, kamu kenapa,nak ?" ujar mama Cakka. Ia menyentuh bahu Ify.

"Tante..." jawab Ify. Kemudian gadis itu berdiri dari kursi di samping ranjang Cakka. Matanya kini memandang mama dan papa Cakka.

"Kamu kenapa Fy? Cakka masih belum sadar juga ya?" tanya papa Cakka kepada Ify."

"Om, Tante... tadi... tadi Cakka... Cakka, tante... Cakka..." jawab Ify terbata – bata.

"Iya, Cakka kenapa ? Kamu mau bilang apa Fy?" sahut mama Cakka. Iapun penasaran dan bingung dengan sikap Ify saat ini.

"Cakka... Cakka menangis, tante. Cakka mengeluarkan air matanya, Om." Ujar Ify kepada kedua orang tua Cakka.

"Apa ? Cakka menangis dalam komanya ?" kata mama Cakka. Ia lalu mendekati tubuh putranya yang terbaring koma itu dan membelai rambut Cakka.

"Ify, kamu serius ? Cakka mengeluarkan air matanya ?" tanya papa Cakka.

"Iya Om, Cakka mengeluarkan air matanya. Ify melihat ada bekas tetesan air mata di pelipis Cakka, dan di bantal Cakka juga basah, Om." Jawab Ify antusias. Kemudian papa Cakkapun juga mendekati tubuh Cakka. Kini mama dan papa Cakka berada di samping kanan dan kiri ranjang Cakka.

"Cakka... bangun sayang, ini mama sama papa di sini." Kata mama Cakka. Ia masih membelai rambut Cakka dan memandang wajah Cakka yang mengenakan masker oksigen itu.

Usahaku untuk tetap bernafas...

Meski aku lelah...

Namun karena cinta, aku akan bertahan...

Hingga mengarungi jalan panjang bersinar dalam satu titik cahaya...

Meskipun aku tahu, aku tak bisa mengajakmu untuk mengikutiku nanti...

Partner For LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang