Tiga minggu kemudian...
Sabtu, 7 Februari 2015 ( 08:00 WIB )
Jalan Hagya Sopia, Yogyakarta
Rumah Sakit Permata Hijau, Yogyakarta
Di kamar rawat Cakka...
Shilla baru saja membuka matanya untuk bangun di pagi ini. Seperti hari – hari biasanya, ia menjaga Cakka yang masih terbaring koma hingga saat ini. Tiga minggu sudah berlalu, namun Cakka masih saja belum sadarkan diri, pemuda tampan itu masih terlelap dalam tidur panjangnya dengan alat – alat dan kabel – kabel medis serta masker oksigen di atas ranjang rumah sakit. Setiap malam Shilla tidur di lengan kekar Cakka dan juga di dada bidang Cakka untuk menjaga pemuda yang sangat dicintainya itu. Setiap malam sebelum tidur dan setiap pagi terbangun, Shilla selalu mengecup kening Cakka dengan lembut dan lama seraya selalu berharap Cakka dapat terbangun dari komanya.
"Selamat pagi, Cakka. Aku harap hari ini kamu berhenti ngacangin aku dengan tidur panjang kamu ini. Aku harap kamu sadar dan lihat aku yang sekarang makin kurus karena sedih melihat kamu koma kayak gini. Ini udah tiga minggu kamu koma, Cakka. Jangan kamu perlama lagi penantian aku, Kka." Ujar Shilla lembut, kemudian ia mencium kening Cakka lembut.
Dan itulah kata – kata yang selalu Shilla ucapkan setiap pagi kepada Cakka. Namun, Cakka sama sekali tidak pernah menjawab ucapan selamat pagi dari Shilla. Yang terasa miris, gadis itu tidak pernah menyerah untuk mengajak bicara Cakka dan merawatnya. Shilla terus memandang wajah tampan Cakka yang masih tertutup masker oksigen itu, hingga suara pintu kamar terbuka menyadarkan gadis itu untuk melihat seseorang yang kini mulai memasuki kamar rawat Cakka setiap hari.
"Selamat pagi, permisi, mbak Shilla, sudah waktunya untuk menyeka. Seperti biasa saya mengantarkan air hangat dan handuk untuk menyeka mas Cakka di pagi ini." Ujar seorang perawat berbaju putih dengan sangat ramah dan senyuman tulus.
"Pagi juga suster. Iya sus, terima kasih. Seperti biasa saya yang akan menyeka Cakka." jawab Shilla lembut. Semenjak Cakka koma di rumah sakit, kini Shilla memang sudah akrab dengan para perawat yang merawat Cakka. Apalagi Shilla juga mengenal dokter Duta yang merupakan teman dari orang tuanya, jadi tidak sulit bagi Shilla untuk akrab dengan para perawat di rumah sakit tempat Cakka dirawat dalam komanya.
"Iya mbak. Mbak Shilla ini setia sekali ya menjaga dan merawat mas Cakka. Mas Cakka beruntung dicintai oleh mbak Shilla. Sudah cantik, baik, setia lagi sama mas Cakka meski sedang koma seperti ini. Mas Cakka ini orangnya tampan ya, mbak. Walaupun sedang dalam keadaan koma pun mas Cakka tetap tampan." Kata perawat itu dengan lembut. Shilla tersenyum tipis memandang sang perawat muda itu.
"Iya sus, Cakka memang tampan sekali. Cakka ganteng banget kan, sus. Hhh, tapi saya sedih sus, saya sedih karena Cakka nggak kunjung bangun dari komanya. Saya nggak tahu sampai kapan Cakka tidur panjang seperti ini. Saya nggak tahu kapan dia akan sadar. Ini sudah tiga minggu Cakka terbaring koma." Jawab Shilla lirih sambil membelai pipi Cakka lembut.
"Mbak Shilla harus terus bersabar. Saya tahu ini memang sangat berat untuk mbak Shilla dan juga untuk kedua orang tua mas Cakka. Tapi, meskipun kemungkinannya kecil, mbak Shilla harus yakin ada keajaiban dari Tuhan yang akan membangunkan mas Cakka dari komanya suatu hari nanti. Mbak Shilla jangan menyerah, mbak Shilla harus terus merangsang mas Cakka. Terus saja ajak mas Cakka bicara. Siapa tahu mas Cakka bisa mendengar suara orang – orang di sekitarnya, hingga suatu hari nanti mas Cakka bisa memberikan respon meskipun belum sadar dari komanya." Ujar perawat baik hati itu sambil memandang Cakka dengan tatapan prihatin.
"Iya sus, saya nggak pernah merasa ingin menyerah untuk membuat Cakka sadar dari komanya. Saya akan melakukan apapun agar Cakka bisa sadar. Saya akan selalu setia menjaga Cakka yang saya cintai. Terima kasih juga karena suster dan yang lainnya sudah membantu saya dalam merawat dan menjaga Cakka."
"Sama – sama mbak Shilla. Itu memang sudah tugas kami sebagai petugas medis. Mbak Shilla yang sabar ya. Silakan mbak Shilla untuk menyeka mas Cakka. Saya tinggal dulu ya, kalau ada apa – apa bisa pencet belnya." Ujar sang perawat kemudian meninggalkan kamar rawat Cakka.
Shilla mulai mengambil handuk kecil kemudian mencelupkannya ke wadah yang berisi air hangat untuk menyeka tubuh Cakka.
"Cakka sayang, sekarang waktunya kamu mandi pagi ini." Kata Shilla kepada Cakka yang masih koma.
Sedetik kemudian setelah handuk kecil itu sudah basah oleh air hangat, seperti biasanya Shilla mulai menyeka dada bidang Cakka yang masih dipasangi kabel – kabel medis serta perban di sebagian dada bidang itu. Dengan hati - hati Shilla menyeka dada bidang itu lembut dengan handuk basah itu.
Setiap hari memang Shilla selalu bersandar meletakkan kepalanya di dada bidang Cakka yang sedang koma untuk sekedar merasakan detak jantung pemuda itu dan merasakan nafas Cakka yang naik turun di dadanya, tetapi Shilla pun juga sangat merindukan bersandar pada dada bidang Cakka ketika Cakka berada dalam kondisi sadar, bukan koma seperti saat ini. Gadis cantik itu rindu akan pelukan hangat dari tubuh tegap Cakka.
"Sampai kapan sih, Kka? Sampai kapan kabel – kabel medis ini terpasang terus di dada bidang kamu? Aku sedih lihat kamu kayak gini."
Kemudian Shilla beralih menyeka tangan dan lengan kekar Cakka. Dengan sabar gadis itu membersihkan setiap bagian dari tangan dan lengan kekar itu, hingga telapak dan juga punggung tangan Cakka. Tidak lupa Shilla mengecup punggung tangan itu di sela – sela menyekanya. Ia sangat berharap jari – jari tangan itu bergerak, namun entah kapan hal itu bisa terjadi.
"Ini juga, sampai kapan selang infus ini harus terpasang di tangan kamu? Sampai kapan, Cakka, sampai kapan?"
Setelah lengan, tangan, serta dada bidang itu sudah bersih, Shilla beralih untuk menyeka wajah tampan Cakka yang mulut dan hidung mancungnya tertutup oleh masker oksigen. Shilla mulai menyeka kedua pipi Cakka, dagu Cakka, dan kemudian kening Cakka. Shilla memandang wajah tampan Cakka dengan tatapan sedih. Ia sangat ingin kedua kelopak mata yang terpejam itu dapat terbuka kembali. Ia merindukan kedua mata sayu Cakka.
Setelah selesai menyeka wajah tampan Cakka, pandangan gadis itu beralih pada bagian wajah tampan Cakka yang tertutup masker oksigen. Meskipun masker oksigen itu terlihat berembun karena aktifitas Cakka menarik dan menghembuskan nafasnya, tetapi Shilla dapat sedikit melihat ada kumis tipis yang tumbuh di sana. Shilla menyadari kumis tipis Cakka mulai tumbuh meskipun kondisinya sedang koma. Shilla tersenyum kecil melihat itu.
"Cakka, kamu tahu nggak? Kamu mulai tumbuh kumis tipis. Hmm, tetep ganteng kok, sayang. Malah kamu tambah ganteng banget meskipun keadaan kamu koma seperti ini. Kamu sempurna, Kka. Masker oksigen pun nggak mengurangi ketampanan kamu. Jadi, meskipun saat kamu udah sadar nanti kamu tetap harus memakai masker oksigen seperti ini, seperti yang dokter Duta bilang, di mata aku, kamu tetap tampan, Kka. Masker oksigen nggak akan mengurangi ketampanan kamu. Aku nggak masalah dengan itu, aku tetap cinta dan sayang sama kamu meski kamu harus selalu memakai masker oksigen sepanjang hidup kamu. Aku nggak masalah meskipun kamu penderita asma parah. Aku akan selalu sayang sama kamu." Ujar Shilla sambil membelai rambut Cakka. Beberapa saat kemudian, Shilla mengecup pipi Cakka kemudian beralih mencium kening Cakka dengam lama, lama sekali, berharap Cakka dapat merasakan kecupan hangat di keningnya itu dan tersadar dari komanya. Dan selalu seperti itu, setiap hari, di pagi, siang, sore, dan malam.
Sungguh dramatis, miris.
***
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Partner For Life
Teen FictionTELAH DITERBITKAN VERSI BUKU NOVEL CETAK Cakka, seorang pemuda tampan yang memilih pergi dari rumah kedua orang tuanya dan bekerja sebagai orang suruhan dari komplotan penjahat, hingga hidupnya tidak lagi teratur. Namun, semuanya berubah saat seoran...
