Sabtu, 17 Januari 2015 ( 10.40 WIB )
Jalan Hagya Sopia, Yogyakarta
Rumah Sakit Permata Hijau, Yogyakarta
Seorang pemuda tampan sedang terbaring lemah terpejam dalam keadaan koma di sebuah ranjang rumah sakit dengan berbagai alat medis di tubuhnya. Pemuda tampan yang sedang koma itu tidak lain adalah Cakka. Setelah insiden di rumah Cakka tadi, Rio dan yang lainnya telah berhasil membawa pergi Shilla.
Kondisi Cakka sudah tidak sadarkan diri, entah pergi kemana nyawa pemuda tampan itu. Yang pasti, pukulan Ray di dada Cakka membuat Cakka sekarat, ditambah lagi dengan kambuhnya penyakit asma parah yang diderita Cakka. Ify dan kedua orang tua Cakka langsung membawa Cakka ke rumah sakit setelah Rio dan yang lainnya pergi meninggalkan rumah Cakka dengan membawa serta Shilla. Kini, Cakka berada dalam keadaan koma di rumah sakit.
Alat – alat medis begitu banyak melekat di tubuh Cakka. Selang infus yang membalut rapi tangan kirinya. Suara monitor detak jantungpun begitu terdengar memilukan. Suara detak jantung Cakka itu seperti detakan waktu yang menunjukkan bahwa ia masih hidup. Kabel – kabel begitu banyak menempel di dada bidangnya dan terhubung dengan monitor detak jantung itu. Dada bidang Cakkapun terlihat memar akibat pukulan keras yang dilakukan Ray terhadapnya. Masker oksigenpun terpasang rapi menutup hidung dan mulut Cakka, membantunya dalam bernafas untuk tetap bertahan hidup meski dalam keadaan koma. Suara tarikan nafasnyapun terdengar berat di dalam masker oksigennya.
Kedua orang tua Cakkapun kini dengan setia menjaga putranya itu di samping kanan dan kiri ranjang. Ifypun dengan setia duduk di sofa di kamar itu dengan tatapan sendu dan menangis kecil memandang tubuh kekar laki – laki yang hingga saat ini masih dicintainya itu. Tubuh yang terbujur lemah seperti mayat hidup dengan alat – alat medis yang menopang hidupnya.
Matahari terasa jauh dari jangkauanku...
Semua seperti dalam kuasa sayap malaikat...
Di sini aku hanya berjalan saja tanpa melihat ke belakang...
Bukan bermaksud mengejar matahari, hanya berusaha menggenggam angin...
Mama Cakka tidak henti – hentinya meneteskan air mata kesedihan atas keadaan putra kesayangannya itu. Iapun selalu menggenggam tangan Cakka tanpa sedetikpun melepaskan tangan lemah Cakka. Sedangkan papa Cakka memilih menahan air matanya dan bersikap tegar memandang wajah pucat putranya yang mengenakan masker oksigen itu. Dan tak henti – hentinya ia membelai rambut Cakka.
"Cakka, jangan tinggalkan papa, nak. Papa sangat menyayangi kamu. Kenapa semua ini terjadi sama putra papa ini ? Baru tadi pagi papa dan mama bertemu dan bicara sama Cakka setelah tiga tahun tidak bertemu, itupun kamu berada dalam kondisi asma yang sedang kambuh, dan kenapa sekarang Cakka koma seperti ini? Cakka nggak kasihan sama papa dan mama, nak?" ujar papa Cakka. Ia berharap putranya itu mendengarnya dan segera membuka mata. Tangannyapun masih membelai rambut Cakka.
"Cakka, bangun sayang, ini mama sama papa ada di sini. Kami membutuhkan kamu, sayang. Kenapa kamu harus kenal sama Rio dan teman – temannya itu ? Gara – gara mereka kamu jadi nggak sadar seperti ini. Dada kamu sampai memar seperti ini. Hhh.. Ya Tuhan, Cakka, bangun! Mama sayang sama kamu. Kapan Cakka mau sadar ?" Mama Cakka mengajak bicara Cakka di sela – sela isakan tangisnya. Ia tahu kalau Cakka mungkin tidak mendengar apa yang dikatakannya. Mama Cakka terus – terusan menangis. Iapun mengguncang tubuh Cakka, namun tidak ada reaksi dari tubuh tegap putranya itu. Tetap sama, seorang Cakka Kawekas Nuraga yang terpejam koma.
"Mama, udah ma, mama jangan nangis terus. Papa mengerti perasaan mama, tapi mama jangan sampai begini. Tubuh Cakka sedang lemah, ma. Mama nggak harus mengguncang – guncang tubuh Cakka untuk memaksa dia bangun." Sahut papa Cakka. Iapun menghentikan tangan istrinya yang mengguncang tubuh Cakka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Partner For Life
Novela JuvenilTELAH DITERBITKAN VERSI BUKU NOVEL CETAK Cakka, seorang pemuda tampan yang memilih pergi dari rumah kedua orang tuanya dan bekerja sebagai orang suruhan dari komplotan penjahat, hingga hidupnya tidak lagi teratur. Namun, semuanya berubah saat seoran...
