Apakah Mungkin?

3.9K 317 32
                                        

Kinal POV

Ternyata oh ternyata aku harus pulang jam 12 yang memaksakan aku untuk cepat-cepat membersihkan berkas yang akan aku bawa nanti di Belanda. Aku berangkat ke sana akan ditemani dengan Boby, Rona, dan manajer lainnya. Di depanku masih ada laptop yang nyala dan menampilkan huruf-huruf dengan begitu banyaknya. Ok mungkin mata aku sudah lelah, bahkan hp-ku tak henti-hentinya berdering, tetapi selalu aku abaikan. Aku harus fokus ke pekerjaan agar cepat selesai.

Kring kring kring

Aaahhh sial, aku langsung menggeser lock screen untuk mengangkat telepon.

"Haloo, Ve aku harus kerja dulu agar cepat selesai, seben...-"

"Emm halo, Maaf Bu, bukannya saya mengganggu Anda," ehh ini sokap? Aku langsung melihat nama yang tertera di layar hp-ku, 'Pak Rendy'.

"Ehh maaf pak, tadi saya kira keluarga saya,"

"Ohh tidak apa-apa kok Bu,"

"Emm ada apa Pak?"

"Begini Bu, pesawat yang Anda tumpangi dibatalkan untuk penerbangan jam 4, dan akan diganti pesawat pribadi milik keluarga Kerajaan Belanda pada jam 10 pagi,"

"Haaaaa kenapa Anda baru sekarang menyampaikan kepada saya?? Kenapa tidak dari tadi? Seharusnya Bapak memberitahukannya lebih dulu, dan saya tidak harus lembur seperti saat ini!!" amarahku memuncak, bagaimana tidak?? Dia mengubah jadwal penerbanganku tanpa sepengetahuan aku?

"Iya Bu, saya minta maaf, sebenarnya saya sudah mengirimkan lewat email, dan sedari tadi saya sudah menelpon Anda akan tetapi, Anda tidak menjawabnya, sekali lagi saya minta maaf Bu," Haa aku langsung mengecek email-ku dan benar saja ada email darinya pada jam 16.48 WIB.

"Oke, saya minta maaf atas kesalahan saya tanpa mengecek email saya, terima kasih atas pemberitahuan dari Anda." aku tak enak kepadanya hehehe.

"Tidak apa-apa kok Bu, saya memaklumi itu semua, terima kasih." panggilan telah terputus. Aah aku langsung menelpon Rona.

"Rona, cepat keruangan saya!"

Tak lama pintu ruanganku diketuk dari luar.

"Masuk..."

[…]

Aku saat ini sudah berada di bandara. Keluarga aku juga ikut untuk mengantarkan keberangkatan aku.

"Sayang..." lemes aku lemesss kalau Ve udah keluar manjanya, jadi pengen gak pergi dah, malahan pengen ngajak Ve ke ranjang heheh.

"Hmm..." aku sok cuek untuk mengurangi detak jantunganku yo walaupun sudah menikah selama 20 tahun jantungku masih terasa saat pertama kali jatuh cinta.

"Ihh sayang..." duhh Ve... kresek mana dah? Ve semakin bergelayut manja dengan lengan kananku. Kepalanya ia sandarkan di bahuku sambil wajahnya menatap ke arahku. Aku tahu karena aku sedikit melirik dengan ujung mataku.

"Ada apa Jessica Veranda Tanumihardja?" aku menoleh ke arahnya, gilaa mata aku nakal banget malahan ngelirik bibirnya Ve bukan matanya. Harus kuat nahan nafsu nih, huftve sabar, heheh kenapa aku begini yah? Apa mungkin faktor belum kena belaian Ve selama satu minggu ya?

"Nanti kamu di sana berapa lama?" Kok leherku geli saat kena hembusan nafas Ve ya, aaaaa makk anakmu sudah tak tahan.

"Ve antarkan aku ke toilet yuk!" mumpung pesawat belum dateng, main sebentar bisa lah heheh. Aku langsung menarik tangan Ve untuk ikut bersamaku.

"Ehh Mami sama Papi mau ke mana?" tanya Nabilo.

"Rahasia," aku sedikit berlari kecil meninggalkan mereka.

"Ish Nal, kalau mau narik itu jangan sakit-sakit kenapa deh, sakit tau." Oo my God Ve gembungin pipinya.

"Ehh eh eh," aku mengajak Ve masuk ke salah satu bilik toilet ini yang sepi, tumben? Ah bodo amat.

"Ihh Nal, kamu kenapa sih? Kalau mau pipis jangan ngajak aku sini kali, aku gak kebelet tau," cerewet amat dah, aku menggaruk leherku.

"Veee kok kamu gak peka sih?" aku memelankan suara agar tidak terdengar dari luar.

"Haaa apa?" wajahnya polos banget gilaa pengen langsung molosin dah.

"Gini loh Ve, kita 'kan udah satu minggu tanpa melakukan kegiatan wajib kita, nah aku mau nagih ke kamu sekarang,"

"Ooo," tubuh Ve menabrakkan ke tubuhku dengan bibirnya menempel di bibirku dan kedua tangan mengalungkan di leherku, sedangkan tanganku memeluk pinggang Ve.

Kita tidak melakukannya sampai akhir soalnya Ve tidak membawa pakaian ganti heheh. Pesawat yang aku tumpangi saat ini telah meninggalkan rumah dan keluargaku. Oh iya aku lupa berapa lama ya aku di sana?

"Rona, kita berapa lama ada di Belanda?" tanyaku ke Rona yang berada di belakangku, dia duduk bersama Pak Rendy.

"Kemungkinan kita ada di sana selama lima hari," jawabnya dengan kacamata ber-frame hitam berada di hidungnya yang menambah kesan dewasa kepada dirinya.

"Ouh, em yang kemarin saya tugaskan, sudah kamu laksanakan belum?"

"Oo sudah kok Bos, tenang saja. Mereka pasti bekerja sesuai perintah bos kok." memang aku kemarin menyuruh Rona untuk sesuatu hal yang akhir-akhir ini membuatku khawatir.

[…]

Author POV

Keluarga Kinal yang tadi sempat mengantarkan Kinal berada di bandara telah sampai rumah dengan selamat. Suasana saat ini tidak seperti biasanya, mereka masing-masing masuk ke kamar mereka tanpa berkumpul di ruang keluarga lebih dulu. Mungkin sang pemilik acara tidak ada di rumah, itu membuat sang pelanggan menjadi tidak semangat untuk melakukan ritual wajib mereka.

Ve masuk ke kamar yang digunakan olehnya dan Kinal. Ve langsung menjatuhkan diri ke kasur karena lelah setelah tadi sedikit ber-olahraga dengan Kinal.

"Aduhh aku lupa membeli bahan masakan, nanti mau makan malam apa?" Ve menepuk jidatnya kemudian mengambil kunci mobil Kinal yang berada di nakas.

"Pak Satrio....." panggil Ve di tangga rumah.

"Ehh iya, ada apa Nyonya?" Pak Satrio memunculkan batang hidungnya.

"Antarkan saya ke swalayan yang berada dekat dengan toko roti, Pak! Pakai mobil ini saja Pak!" Ve memberikan kunci mobil ke pak Satrio.

"Eh Nyonya, ini 'kan mobil Bos Kinal, saya tidak berani menggunakannya tanpa beliau yang menyuruh saya," ujar pak Satrio sedikit gelisah.

"Pak, apa bedanya saya dengan Kinal? Sudahlah cepat antarkan saya!"

"Ehh iya iya Nyonya,"

Ve duduk di kursi penumpang belakang sambil mendengarkan lagu lewat ipod-nya. Dia merasa rindu dengan Kinal, padahal ini bukan pertama kalinya. Gotcha Ve lupa tadi tidak menanyakan Kinal berada di Belanda berapa lama. Niat Ve untuk mengirimkan pesan untuk Kinal diurungkan karena dia ingat, Kinal masih berada di pesawat.

Swalayan yang dimaksud oleh Ve telah sampai.

"Silahkan Nyonya," Pak Satrio membukakan pintu mobil untuk Ve.

"Terimakasih Pak," Ve meninggalkan pak Satrio di parkiran.

Ve masuk ke dalam, dia mengambil keranjang belanjaan kemudian menuju ke bagian sayur-mayur dan berbagai bumbu masakan. Ve memilih-milih brokoli, saat hendak mengambil brokoli tak disengaja tangannya bersentuhan dengan tangan orang lain.

"Ehh maaf," ujar Ve dengan menundukkan kepala.

"Ohh no problem," sahut orang yang tangannya tak sengaja bersentuhan dengan Ve.

Ve seperti mengenal suara itu, lalu mengingat pemilik suara tersebut, setelah itu....

'Apa jangan-jangan? Gak mungkin!' Ve mengangkat kepala untuk memastikan sang pemilik suara. Mata Ve membulat, dan benar dengan dugaannya.

"Jessica Veranda,"

"Maaf sepertinya Anda salah orang." Ve langsung berlari keluar dan tidak jadi membeli bahan makanan.

TBC

Rumah Tangga VeNalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang