Kamu membuat diriku bimbang akan sebuah pesan tidak bermakna darimu namun mampu membuatku gelisah menunggu balasanmu.
Sepulang sekolah Kamilla langsung membersihkan diri yang begitu lengket, Kamilla menggosok-gosok rambutnya dengan handuk. Setelah itu dia berjalan mendekati meja belajar dan membuka tas-nya untuk mengambil ponsel. Saat dia mendapatkan barang dia cari, Kamilla mencoba menyalakan benda itu.
"Aduh lowbat lagi," desah Kamilla mulai mencharge baterai ponsel, menunggu untuk beberapa menit sampai baterai ponsel Kamilla lumayan banyak dia menyalakan ponselnya. Kamilla mendapat satu pemberitahuan pesan masuk.
Cowok ganteng: Oi?
"Sejak kapan gue punya kontak ini?" pikirnya. Kamilla bingung dia sebelumnya belum pernah mempunyai kontak ini, apakah ponselnya di bajak teman? Atau ponsel dia tertukar sama orang lain. Ini membingungkan. Kamilla berpikir siapa orang yang pernah meminjam ponsel miliknya, bahkan sahabat sendiri pun tidak pernah meminjam.
"Balas, nggak, balas, nggak, balas," ucap Kamilla dengan menghitung kelima jarinya seperti mantra anak SD dan berakhir dikata balas, tanpa ba-bi-bu dia mengambil ponsel miliknya karena pensaran.
Cewek polos: Ini siapa yah?
Nihil belum ada balasan sama sekali, mungkin ini orang iseng? Atau ini kerjaan temannya. Kalau benar untuk apa nggak ada kerjaan untuk menjahili Kamilla, "Usil banget sih."
***
Motor Adrian membelah kota di malam hari hanya di terangi lampu jalanan dan kendaraan lain, dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Menempuh waktu yang panjang, sampai di gerbang rumahnya Adrian mematikan mesin motor dan masuk kerumah tanpa mengucapkan salam seperti biasanya. Saat pintu terbuka dia melihat seorang wanita paruh baya menatap Adrian cemas.
"Den Ian kenapa baru pulang jam segini?" tanya wanita paruh baya saat menunggu Adrian yang kini sudah di hadapannya dengan wajah yang datar.
"Ian cape mau istirahat, bi Imas tolong siapkan air hangat," ucap Adrian dengan tatapan melembut pada bi Imas. Setelah itu Adrian berjalan ke dalam rumah megahnya ini dia menatap sekeliling rumah begitu banyak kenangan yang tersimpan di sini.
"Ian kangen Mama," lirih Adrian yang tersenyum hambar, miris memang. Mungkin tuhan tidak pernah mengijinkannya untuk bahagia karena Adrian selalu berasumsi sendiri jika dia memang tidak pantas bahagia seperti yang lainnya.
Adrian berjalan menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya yang menjadi tempat dia mencurahkan semua yang ada dihati selain bi Imas. Kamar bercat warna abu-abu dengan stiker spongebob menempel di dinding kamarnya. Adrian rebahan di atas ranjang sampai suara ponselnya bergetar disaku celana sekolahnya.
Drtt... drttt.
Adrian membuka ponsel miliknya dilihat ada satu pesan baru, langsung dia buka.
Ayah: Gimana kabarmu?
Heran satu kata yang menggambarkan keadaannya ini, kenapa orang ini baru mengirim pesan padanya baru memberi kabar, kenapa nggak dari dulu pikir dia. Adrian hanya memandang pesan itu tanpa ada niat membalasnya sama sekali.
"Tumben dia perhatian sama gue?" remeh Adrian lalu membanting ponsel di atas ranjang dan mengusap wajahnya frustasi. Dia benci pada ayahnya sendiri? Tidak lebih tepatnya dia kecewa.
Tokk... tok... tok.
"Den air hangatnya udah siap!" teriak bi Imas dari balik pintu kamar Adrian, cowok itu langsung beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
With You Adrian
Teen FictionBermula dari pertemuan Kamilla Maharani siswi SMA Harapan Bangsa, dengan cowok sangar bernama Adrian Adinata Pratama si murid baru. Pertemuan mereka yang tidak direncanakan itu, membuat Kamilla selalu ingin memasuki dunia Adrian. DESSCHYA Copyright...
