"Kak aku ingin stiker spongebob ditempel di sini," ucap anak berumur empat tahun menunjuk tembok yang didekat ranjang. Sedangkan gadis kecil ini menuruti keinginan adiknya lalu merangkak menaiki ranjang dan menempelkan stiker itu. Hingga bocah ini terpekik girang sambil bertepuk tangan.
"Adik sayang kakak," kata bocah ini berusaha naik keranjang dan memeluk kakaknya.
"Kakak juga sayang adik." Mereka saling berpelukan dengan erat sampai keduanya tertidur.
Mereka berdua terbangun disaat mendengar sebuah keributan di luar sana. Adrian terbangun dari tidurnya. Lalu menatap kakaknya yang masih saja tertidur. Adrian membangunkan sang kakak saat suara ribut begitu jelas terdengar di matanya.
"Kak, bangun," kata Adrian membangunkan kakak perempuanya. Hingga berhasil, bocah ini terbangun dalam tidurnya. "Ada apa, dek?" tanya si Kakak pengucek matanya karena rasa kantuk masih ada bersamanya.
"Di luar ribut, yuk liat!" seru Adrian menarik tangan kakaknya keluar dari kamar. Menuruni tangga dan mata kedua bocah ini melihat sesuatu yang tidak pantas dilihatnya. Dia melihat Ayahnya menampar wanita yang tidak lain adalah Mamanya.
Terlihat Laura menangis memegang pipinya yang merah dan terasa perih, saat Pratama menampar pipinya begitu keras. Hatinya saat ini hancur perlakuan Pratama pada dirinya, tidak diterbayangkan oleh Laura.
"Kamu tega, Mas. Kamu tega bermain dengan wanita lain, di belakangku selama ini, sama sahabatku sendiri. Bahkan kamu mempunyai seorang anak perempuan dengan wanita itu! Dimana hatimu, Mas?! Dimana? Kenapa kamu tidak memikirkan nasib Adrian dan Gea!"
"Kamu yang tega Laura! Kamu melarang Mas buat bertangung jawab sama Karin! Ini perbuatan Mas yang harus dipertangung jawabkan! Lunetta juga berhak atas hak diriku. Karena Mas Ayah kandungnya," ucap Pratama tegas, dengan nada yang tinggi. Mereka tidak sadar jika Adrian dan Gea hanya bisa menatap keduanya sedih.
"Kamu egois! Aku kecewa sama kamu. Sekarang aku beri kesempatan buat kamu, Mas. Kamu pilih Karin dan Lunetta, atau Mas pilih aku dan anak kita!" teriak Laura menatap Pratama dengan kecewa. Pratama hanya menatap istrinya frustasi, dia mengacak rambutnya lalu tak sengaja menatap seorang wanita dengan anak perempuan. Dia Karin dan Lunetta menatap Pratama sedih. Pratama tidak bisa memilih keduanya. Karena mereka begitu berarti dalam hidupnya.
"Lunetta," lirih Pratama yang terdengar jelas di telinga Laura.
Tawa miris keluar dari bibir wanita ini. Semuanya sudah berakhir, perasaannya kini telah hancur. Pria yang dia anggap pahlawan yang juga dia cintai, memilih hidup bersama dengan wanita lain. Walau sedikit tidak percaya dengan ucapan yang dia dengar. Ternyata seseorang yang dia anggap baik, tidak selamanya baik. Buktinya pria yang dia cintai melepaskan dirinya dan kedua buah hatinya.
"Itu jawaban kamu, Mas. Sekarang semuanya sudah berakhir. Kamu memilih hidup dengan Karin, sehabatku sendiri. Mulai sekarang aku pergi, dan tidak usah khawatir. Aku akan mengirim surat cerai padamu, Mas. Terimakasih lukanya yang begitu hebat," kata Laura hendak pergi. Namun, sebuah tangan mencegahnya untuk pergi.
"Jangan pernah pergi, Laura," desis Pratama yang tidak ingin pisah dengan Laura. Dia sangat mencintai wanita ini, tapi kejadian masa lalu membuatnya sadar akan kehadiran Laura. Apa agi harus berpisah dengan kedua anaknya.
"Kamu egois, Mas! Menjauhlah hidup bersama dengan jalangmu itu!" teriak Laura tidak terkendali. Hal itu membuat emosi Pratama terpancing.
Plak!
"MAMA!" teriak Adrian dan Gea bersamaan. Menghampiri sang ibu yang menangis memegang pipinya yang lebam. Belum sembuh bekas tamparan Pratama, dia kembali menampar istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
With You Adrian
Teen FictionBermula dari pertemuan Kamilla Maharani siswi SMA Harapan Bangsa, dengan cowok sangar bernama Adrian Adinata Pratama si murid baru. Pertemuan mereka yang tidak direncanakan itu, membuat Kamilla selalu ingin memasuki dunia Adrian. DESSCHYA Copyright...
