Perasaan itu susah ditebak. Namun jika rasa itu telah di sadari mengapa dia selalu pergi?
Kamilla terdiam di depan kelas sesudah pelajaran olahraga tadi. Sedangkan ini sudah jam pulang sekolah dan dia terdiam sendiri di kelas tanpa bergerak sedikitpun. Yang dia tunggu di sini hanya Adrian dari tadi dia belum melihat Adrian ke kelas, bahkan tas sekolahnya masih berada di tempat duduk cowok itu, namun pemiliknya pergi begitu saja.
Mengingat saat dia pergi menggendong gadis lain membuat Kamilla dirundung gelisah. Sebuah rasa sesak dan resah datang begitu saja tanpa dia undang.
Sudah dua jam lamanya dia menunggu sosok Adrian namun hanyalah angin yang datang padanya. Kamilla sempat berpikir, untuk apa dirinya menunggu Adrian selama ini. Dia menganggap pertanyaan itu, dengan jawaban; karena dia begitu khawatir pada Adrian.
Langit sudah mulai gelap, jam menunjukan pukul tiga sore. Dia lelah menunggu Adrian Kamilla langsung beranjak dari tempat dia berdiri dan berjalan keluar kelas, dia melihat sosok Adrian berada di depan ruang OSIS bersama seorang gadis tanpa sengaja dia mendengar percakapan antara Adrian dan Nesa.
Hati Kamilla berkedut nyeri dia sedari tadi menunggu Adrian di kelas sedangkan orangnya kini sedang berdua dengan gadis lain?
"Adrian gue pengen ngomong sama lo," ucap Nesa menatap Adrian yang menatapnya dingin.
"Ngomong aja kenapa harus curhat segala." Adrian berbicara santai sedangkan Nesa hanya mendengus sebal mencoba bersabar menghadapi Adrian.
"Gue pengen bilang terimakasih sama lo, yang udah nolongin gue tadi siang. Dan gue juga pengen bilang minta maaf, karena sikap gue tadi buat lo nggak nyaman," kata Nesa dengan kepala tertunduk dia sungguh menyesal akan sikapnya kepada Adrian. Dia tahu jika cowok ini begitu lembut namun itu semua tertutup rasa dingin yang dia tunjukan pada semua orang.
Adrian menatap Nesa dengan lekat walau dia sedang tertunduk, Adrian percaya jika gadis ini merasa menyesal terdengar dari intonasi setiap kata yang dia ucapkan. Dia mengembuskan napas gusar rasa kesal memang kini melanda Adrian, tapi semua itu tidak menutup rasa ketertarikan dia terhadap Nesa.
"Yah gue maafin lain kali, jangan gitu lagi. Untung gue baik kaya malaikat," ucap Adrian tanpa Nesa sadari Adrian menatap Nesa lembut berlalu pergi.
Kamilla yang melihat Adrian di balik tembok bersikap manis kepada Nesa hanya terdiam tubuhnya kaku. Bahkan pertama Kamilla bertemu dengan Adrian dia tidak mendapatkan perlakuan manis, yang ada sikap dingin begitu menyakiti hati. Tak ingin berlama-lama di sini dia pergi beranjak untuk pulang dengan langkah gontai.
"Mungkin benar, gue tidak terlalu penting untuk dirinya."
**
Hari Minggu adalah hari yang paling dinanti oleh semua orang terutama anak sekolah.
Di pagi hari ini Kamilla melakukan aktifitas jogging mengelilingi koplek rumahnya. Kini dia berada di taman perkomplekan yang terletak di blok C. Dia istirahat sejenak lalu mengambil napas dan dihembuskan secara teratur, setalah itu dia mengambil air minum yang sudah setengah lagi. Air itu Kamilla teguk sampai habis tidak tersisa dan langsung dia buang botol itu, pada ke tempat sampah di sebrang jalan tanpa berpikir panjang.
"Woy botol siapa ini?! Sialan kena gue!" teriak seseorang saat terkena lemparan botol minuman dari Kamilla.
Gadis ini berbalik melihat siapa yang terkena lemparannya, Kamilla lihat kini sekolompok anak cowok yang melakukan aktivitas sama dengannya. Dia mengenal salah satu dari mereka lalu cowok yang terkena lemparan itu mengambil botol dari bawah.
KAMU SEDANG MEMBACA
With You Adrian
Novela JuvenilBermula dari pertemuan Kamilla Maharani siswi SMA Harapan Bangsa, dengan cowok sangar bernama Adrian Adinata Pratama si murid baru. Pertemuan mereka yang tidak direncanakan itu, membuat Kamilla selalu ingin memasuki dunia Adrian. DESSCHYA Copyright...
